Skip to main content

follow us

Hidup Mahasiswa!
Hari ini, tanggal 13 Mei 2017, menjadi salah satu hari yang mungkin berkesan dalam hidup saya. Bagaimana tidak? Melihat aksi solidaritas aliansi Keluarga Mahasiswa Politeknik Negeri Bandung yang melakukan demonstrasi menuntut hak mereka begitu luar biasa.

Politeknik Negeri Bandung mengadakan acara yang terbilang besar dengan nama PANCARONA sebagai tema dari Dies Natalies Politeknik Negeri Bandung yang ke 38 tahun. Acara ini dilaksanakan selama kurang lebih dua minggu dengan minggu pertama adalah tahap persiapan dan minggu kedua adalah acara inti. Event ini terbilang sangat meriah dan berjalan sangat lancar hingga puncaknya yang diselenggarakan di depan Pendopo Agung Politeknik Negeri Bandung.

Di saat yang bersamaan dengan acara puncak perayaan acara PANCARONA/ Dies Natalies Polban yang ke 38, Keluarga Mahasiswa Politeknik Negeri Bandung membentuk aliansi guna menyalurkan aspirasi mereka yang tidak didengar oleh pihak management Polban.

Dipimpin oleh Badan Eksekutif Mahasiswa, kurang lebih 200 partisipan aksi hadir berbaris dengan antusias dan semangat di depan Gedung Direktorat sembari menyanyikan lagu-lagu patriotis dan nasionalis.

Dari pandangan saya yang tidak ikut serta dalam kegiatan aksi namun turut hadir menyaksikan proses aksi tersebut, aksi tersebut terbilang damai dan tersalurkan. Tuntutan mereka langsung di dengar oleh pihak management. Tak hanya didengar, aspirasi mereka pun langsung diberi respon positif.

Satu hal yang membuat saya terkesan dengan aksi tersebut adalah waktu yang dipilih untuk melaksanakan aksi tersebut. Bertepatan dengan acara puncak acara Dies Natalies Polban. Kemeriahan acara inti Pancarona tersebut terhenti karena pergerakan mahasiswa yang solid dan bergelora menyuarakan “Hidup Mahasiswa!”. Panggung megah yang telah disusun untuk acara hiburan seketika kosong karena perhatian semua orang tertuju pada sekelompok mahasiswa berjas biru dongker.

Kejadian ini seakan memberikan pelajaran pada saya bahwa selagi masih ada sedikit kepedulian dan keadilan di hati seseorang serta masih ada sedikit keberanian untuk menyuarakan kepedulian dan keadilan tersebut, maka uang berlimpah tidak bisa membelinya.

Saya bukan partisipan, saya hanya saksi dari pergerakan Keluarga Mahasiswa yang diabadikan di berbagai media sosial dengan tagar #SavePolban. Namun, saya bangga dapat menjadi satu dari sekian banyak orang yang dapat menyaksikan kejadian langka tersebut. Semoga ini dapat menjadi awal yang baik bagi keberlangsungan demokrasi dalam kampus maupun demokrasi di negeri ini.

Sebagai salah seorang mahasiswa yang masih mempunyai kepedulian, izinkan saya menutup tulisan ini dengan menggemakan jargon mahasiswa yang merupakan janji dan mimpi semua mahasiswa di seluruh pelosok negeri.

Hidup Mahasiswa! Hidup Bangsa Indonesia! Hidup Rakyat Indonesia!

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar