Skip to main content

follow us

Keseimbangan: Si Kaya dan Si Miskin?
Halo hai, sob! Allah menciptakan dunia ini dengan sebuah sistem keseimbangan yang sempurna. Siang bersanding dengan malam, sehat berhadapan dengan sakit, hidup berdampingan dengan mati, laki-laki hidup bersama perempuan. Namun, ada beberapa keseimbangan yang tidak mengenakkan. Salah satunya adalah ada kaya dan miskin. Bagaimana pandangan islam tentang itu? Mari kita coba bahas bersama.
Bismillahirahamannirahim

Kaya adalah suatu kondisi dimana seseorang memiliki kelebihan rizki, dalam hal ini saya khususkan pada harta, sedangkan miskin adalah keadaan yang berbanding terbalik dengan kaya. Wajar? Tentu saja. Secara logika awam pun ini adalah bentuk keseimbangan dalam hidup ini. Beberapa diantara kita pasti ada yang beranggapan, “Kalau semuanya kaya, siapa yang mau jadi petani? Nanti krisis pangan dong…” Betul tidak? SEIMBANG.

Namun tahukah kawan bahwa itu adalah sebuah kesalahan tafsir dalam hidup ini. Istilah ‘si kaya dan si miskin’ bukanlah suatu bentuk keseimbangan yang hakiki. Mengapa demikian? Mari kita pelajari. Allah telah memberikan penjelasan yang seterang-terangnya dalam al-Quran tentang keseimbangan yang hakiki.

“Dan sesungguhnya Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.” – An-Najm (53): 48.

Perhatikan baik-baik kawan. Apa Allah menciptakan satu hambanya dalam keadaan miskin? Tidak, kawan. Keseimbangan yang Allah ciptakan dalam dunia ini adalah ‘si kaya dan si cukup’.

Miskin adalah kondisi dimana seseorang merasa tidak pernah cukup dalam hidupnya. Sudah diberi motor, menuntut mobil. Jadi, sungguh salah besar ketika kita mengkambing-hitamkan Allah, Dzat yang Maha Adil, sebagai yang salah atas kondisi yang dimiliki.

Lalu kenapa Allah tidak menciptakan semua orang dalam keadaan cukup? Kenapa harus ada si kaya? Sama halnya Allah menciptakan sehat dan sakit. Allah tidak menciptakan sakit di surga, tapi mengapa Allah ciptakan di dunia? Alasannya adalah agar kita semua senantiasa bersyukur. Ketika kita diberi sakit, kita tahu betapa bahagianya menjadi sehat sehingga ketika Allah berikan sehat pada kita, kita akan senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat sehat yang Dia berikan.

Semoga tulisan sederhana ini dapat memperkuat iman dan taqwa kita di bulan Ramadhan ini. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya.

Sampaikanlah dakwah walau hanya satu ayat.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar