Skip to main content

follow us

Resensi Buku Caligula: Kisah Kebangkitan & Kejatuhan Sang Kaisar Gila, Ali Zaenal
Judul Buku: Caligula: Kisah Kebangkitan & Kejatuhan Sang Kaisar Gila
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Jarot Setyaji
Genre: Non-fiksi, Sejarah
Bahasa: Bahasa Indonesia
Penerbit:  MediaKita
ISBN: 9-789797-944018
Cetakan: Pertama, 2013
Jumlah Halaman: 114 halaman
Harga: Rp.30.000,-
Score: 4.8

Caligula, salah satu kaisar paling gila yang pernah memerintah Romawi. Meski jabatan Kaisar Romawi dipegang hanya selama 3-4 tahun, tetapi rangkaian kekejaman dan terror selama pemerintahannya tidak dapat ditandingi Kaisar Romawi lainnya.

Kisah tentang Caligula sendiri menarik minat banyak orang, termasuk sejarawan. Kisah seputar kekejamannya selalu menimbulkan pedebatan. Sejauh manakah kekejaman Kisar Romawi tersebut? Silahkan baca buku ini.

Berawal dari kisah seorang Kaisar Romawi yang terkenal oleh kebengisannya di zamannya. Dialah Julius Caesar, nama kaisar yang mungkin tidak aneh di telinga. Julius Caesar, mempunyai prestasi yang terbilang baik dalam masalah perluasan wilayah. Akan tetapi, Julius Caesar bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya dengan memasang pajak penjualan yang tinggi sampai membunuh orang-orang. Hingga akhirnya masa kepemimpinan Julius Caesar pun runtuh bersama dengan sistem kediktatoran di Romawi. Sejak saat itu, Romawi menganut sistem pemerintahan Demokrasi.

Di era inilah, Caligula kecil lahir. Caligula besar di tempat pelatihan militer Romawi, sehingga ketika beranjak remaja dia sudah mengenal dengan baik tata cara berperang, menyusun strategi dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan kemiliteran. Di usia muda, Caligula sudah mendapat banyak penghargaan atas kemampuannya. Selain itu, Caligula kecil pun mempunyai banyak pengalaman tragis dalam hidupnya. Salah satunya adalah ketika dia disuruh untuk menyaksikan kematian orang tuanya secara langsung.

Oleh karena pengalaman kelamnya itulah Caligula bermimpi untuk menghentikan kehidupan yang sangat keji itu. Caligula yang ketika itu telah diberikan kedudukan sebagai salah satu orang terpercaya kaisar dan juga telah diangkat sebagai anak angkat dan penerus resmi tahta kekaisaran sang kaisar, setia kepada kaisar yang memimpinnya. Namun, kesetiaannya berubah ketika sang kaisar mulai memperlakukan keluarga Caligula, terutama kepada ibunya, secara tidak manusiawi. Sampai pada akhirnya ibunya pun meninggal dalam pengasingan yang dilakukan oleh sang kaisar. Kesetiaan Caligula pun habis. Alhasil, sang kaisar pun meninggal dan kemudian tahtanya diambil oleh Caligula.

Di awal kepemimpinannya, Caligula berlaku sangat bijaksana dan dermawan. Dia benar-benar berpihak pada rakyat. Namun, setelah mendapat banyak masalah, emosi Caligula menjadi tidak terkontrol. Pada akhirnya, Caligula mulai melakukan hal-hal yang berlawanan dengan sikapnya yang bijak dan sederhana. Caligula berubah menjadi seorang kaisar yang gila dan bengis.

Buku ini menceritakan tentang kisah seorang anak yang biasa dipanggil “Caligula” oleh orang-orang di sekitarnya. Seorang anak keturunan bangsawan Yunani yang juga ahli dalam peperangan. Seperti judulnya, buku ini menceritakan kisah hidup seorang Caligula dari kecil hingga menjadi salah seorang kaisar Romawi dan segala hal yang telah dia lakukan untuk Romawi.

Cerita yang terkandung dalam buku ini tersusun dengan cukup baik. Saya yakin pembaca dapat dengan mudah mengikuti jalan ceritanya karena alurnya yang tetap, yaitu maju. Namun, bahasa yang digunakan cukup kompleks sehingga terkadang pembaca agak kebingungan dengan makna. Untungnya, penulis menyediakan catatan kaki setiap kali ada kata-kata yang tidak dimengerti seperti  “triumph” atau kata istilah lainnya.

Tokoh Caligula sebagai tokoh utama dalam buku ini digambarkan dengan baik oleh penulis. Tentang bagaimana karakter Caligula sebelum menjadi kaisar dan setelah menjadi kaisar. Selain tokoh utama, penulis juga sanggup mendeskripsikan peran-peran lain seperti Tiberius Julius Caesar, kaisar sebelum Caligula, ataupun Macro, salah satu sahabat Caligula yang juga menjadikan Caligula seorang kaisar. Sayangnya, penulis membawa terlalu banyak tokoh dengan nama yang hampir sama sehingga terkadang membuat pembaca bingung.

Selain nama-nama tokoh, pergantian setting tempat yang terlalu cepat terkadang membuat pembaca kesulitan memahami jalannya cerita seperti pada bagian dimana Caligula sedang melakukan orasi di salah satu camp militer di Inggris. Alangkah lebih baiknya, kalau penulis membuat setiap kejadiannya itu berada di chapter yang berbeda dan menuliskan setiap kejadian itu secara rinci sehingga informasi yang terdapat lebih akurat dan pembaca juga tidak kebingungan.

Buat dia merasakan apa itu sekarat.” Mungkin ini menjadi quote yang paling saya sukai dari buku ini. Kata-kata yang sering Caligula ucapkan ketika hendak menyiksa orang-orang yang ingin dia bunuh. Kata-kata itu seakan benar-benar mengekspresikan kebengisan seorang kaisar yang telah bertransformasi menjadi gila. “Tidak ada budak yang lebih baik, dan tidak ada Tuan yang lebih buruk.” Itu juga menjadi salah satu quote terbaik yang keluar dari seorang Caligula. Bahasa diplomatis yang dia keluarkan untuk melindungi orang yang dulu menjadi tuannya, Kaisar Tiberius Julius Caesar.

Setelah, saya membaca buku ini, saya mempelajari banyak hal. Salah satunya adalah tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Dari buku ini saya sadar, bahwa sebuah jabatan yang tinggi menuntut tanggung jawab yang besar. Banyak orang yang ingin jabatan namun belum siap menanggung tanggung jawabnya sehingga mampu merubah karakter seseorang secara total seperti halnya yang terjadi pada Caligula. Intinya, bekali diri kita dengan ilmu sebanyak-banyaknya agar kelak bisa menjadi pemimpin terbaik untuk agama, nusa dan bangsa.

Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca untuk semua usia karena tidak ada unsur porno/ konten dewasa di dalamnya. Buku ini bisa menjadi referensi pengetahuan umum dunia bagi generasi muda. Ceritanya cukup menarik, meski buku ini menggunakan bahasa yang terlalu baku yang kadang menjadi alasan untuk remaja sukar membacanya. Kalau masalah nilai, dari 1-10, saya beri angka 7 untuk buku ini.

Nah, mungkin itulah sedikit ulasan yang bisa saya berikan mengenai buku ber-genre sosial politik ini. Semoga resensi saya ini bisa menjadi referensi buat kalian dalam memilih buku. Maaf atas segala kekurangnnya, semoga artikel ini bermanfaat. Kritik dan saran diterima dengan sangat! Jadi, silahkan curahkan semua perasaan kalian setelah membaca artikel ini di kolom komentar. Terima kasih.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar