Skip to main content

follow us

Social Media: Be Sociable, Not Instagramable
Halo hai, sob~! Baik, mungkin sudah sekian lama saya tidak pernah menulis postingan opini. Kali ini, saya ingin sedikit membahas tentang mental baru yang terbentuk di generasi millennial kita.

Ya, sesuai dengan judulnya, yang saya ingin bahas berkaitan dengan mental generasi muda kita sekarang yang (sorry to say) semakin hari semakin aneh.

Kenapa?

Pernah satu-dua kali saya dengar obrolan kalau generasi millennial itu:
  • Cerdas dan kreatif.
  • Aktif.
  • Kritis.
  • "Kekinian".
Tapi saya heran, kenapa banyak diantara mereka yang masih tidak memahami fungsi dari media sosial yang sudah menjadi kebutuhan pokok mereka kini hari?

Mungkin sederhananya seperti ini: Media sosial itu adalah sebuah alat yang seharusnya digunakan untuk menyosialisasikan diri kita. Ingat, menyosialisasikan diri, bukan menyosialisasikan kehidupan.

Sederhananya sosialisasi adalah memperkenalkan agar orang/sosial kenal/tahu/mengerti tentang apa yang diperkenalkan. Cukup. Fungsi lain dari media sosial adalah untuk komunikasi. Jadi, setelah kita memperkenalkan diri kita, mulailah komunikasi dengan yang kamu anggap sosial tersebut.

Seharusnya begitu. Tapi sekarang, kebanyakan anak muda yang kekinian malah sibuk menggunakan media sosial untuk menyosialisasikan kehidupan mereka. Contoh, ketika mereka sedang makan di suatu tempat, mereka buat Insta Story, update Path. Untuk apa?

Biar bisa eksis dan dilihat orang banyak?
Oke, satu alasan yang bisa saya terka ketika memikirkan kenapa kids jaman now sangat suka memperlihatkan kehidupan mereka di media sosial adalah supaya bisa eksis. Ya, mereka update hanya karena mereka ingin dilihat dan jadi populer. Mereka rela spend more than what they have demi hal itu. Banyak dari mereka yang percaya bahwa mereka bisa tenar di media sosial dan mereka percaya bahwa ketenaran mereka dapat mendukung masa depan mereka (economically and socially). Berharap dapat endorse, banyak dari mereka yang masih bersekolah nabung beli barang-barang mahal dan berkelas seperti sepatu Yeezi atau Adidas atau Nike ori yang mana uangnya kalau mereka tabung, kuliah mereka nggak perlu nyusahin orang tua. Did you see the point?

Mau berbagi kebahagiaan?
Kalau mereka bilang, ‘berbagi kebahagiaan’, maka saya bilang, itu mengajarkan generasi yang lebih muda untuk menjadi hedon/glamour/hura-hura. Miris ketika saya melihat anak-anak cilik usia 7 atau 10 tahunan membeli dan mengenakan baju Yogs dari Young Lex yang panjang membentang menembus tanah. Atau anak perempuan berhijab yang menari-nari lepas ala barat (baca: seksi) menirukan tarian-tarian Korea. Saya tidak menyalahkan Young Lex atau Jilbab disini. Ok?

Kan biar nggak gabut!
Kalau mereka bilang, ‘biar nggak gabut’, maka saya bilang, buat sesuatu atau lakukan sesuatu yang lebih produktif dan positif. Jika suka buat Insta Story, cobalah buat short film atau naskahnya. Kalau suka buat Insta Story tentang makanan, cobalah buat tulisan food review dan tawarkan tulisan tersebut ke media cetak atau media publikasi lainnya. Dengan begitu mereka bisa lebih produktif dan dapat mengukur kemampuan menulis kita. Kalau gitu kan luar biasa!

Kan keren!
Kalau mereka bilang, ‘kan keren’, maka saya bilang, lebih keren lagi kalau kalian mengunggah karya kalian ketimbang keseharian kalian di media sosial. Saya lebih mengapresiasi mereka yang mengunggah karya mereka (puisi, lukisan, musik, hasil jepretan, dll.) di media sosial mereka ketimbang foto keren mereka di suatu tempat/ momen dengan tagar #UnforgettableMoment.

Bukan jelek ataupun salah melainkan kurang pas. Kan namanya juga Ke-hi-du-pan pri-ba-di. Ya pribadi, buat diri sendiri. Nggak perlu kita pertontonkan ke orang lain. Saya mengutip kata-kata dari salah seorang sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib. Beliau berkata:
“Tak perlu kamu menjelaskan tentang dirimu karena yang membencimu takkan percaya dan yang mencintaimu tak memerlukannya,” – Ali bin Abi Thalib
Itu sebenarnya hasil paraphrase saya karena saya lupa teks aslinya seperti apa. Tapi intinya, menceritakan tentang apa yang terjadi pada dirimu bukanlah sesuatu yang perlu untuk dilakukan apabila tidak diminta atau ditanya.

JADI, nggak perlu update status ketika kejebak hujan karena orang-orang yang peduli akan mencari dan menghubungi ketika kalian tak ada.

Nggak perlu update status ketika makan makanan mewah ala restoran atau café karena orang yang mencintaimu hanya akan bertanya “sudah makan? Makan dimana?”

Nggak perlu update status ketika hendak melakukan sesuatu (contoh: ‘diet soon’, ‘otw holiday’) karena yang menyayangimu akan selalu tahu dan mencari tahu yang akan kamu lakukan agar mereka dapat membantu dan mendukungmu.

Nggak perlu update status ketika telah melakukan suatu hal positif (contoh: membantu orang, ikut kajian) karena orang-orang yang membencimu akan tetap membencimu dan mencari alasan negatif atas tindakanmu.

Ngerti?

Kesimpulan
Inti dari tulisan saya kali ini adalah banyak (tidak semua) anak muda millennial yang masih salah kaprah dan terlalu ‘eksis’ di dunia maya dan lupa untuk berkarya.

Mungkin masih ada sanggahan seperti:
  • Kan media sosial sekarang bisa jadi lahan bisnis.
Hal tersebut akan saya coba bahas lain waktu. Semoga Allah memberikan kesehatan dan kesempatan agar saya dapat memberi komentar terhadap pernyataan itu.

Sekali lagi saya tekankan pada semua pembaca, kalau kalian adalah generasi millennial yang dimaksud, silahkan berkaca diri, iyakah kalian seperti yang saya sebutkan? Kalau iya, saya yakin kalian tahu apa yang perlu kalian lakukan. Kalau kalian punya kenalan yang tergolong kids jaman now, ingatkan mereka.

Itu dulu yang bisa saya sampaikan. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan sederhana ini. Komentar, kritik dan saran saya terima dengan senang hati. Terima kasih dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar