April 2018

Halo hai, sob~! Pernah dengar tentang Shell Eco-Marathon? Shell Eco-Marathon merupakan sebuah lomba tahunan yang diadakan oleh perusahaan Shell. Sebuah ajang balapan mobil rancangan anak-anak hebat dari berbagai penjuru dunia (termasuk Indonesia).

Shell Eco-Marathon ini bukan memperlombakan kecepatan mobil, bukan pula tentang hebat skill mengemudi si pengemudi, tapi tentang efektivitas dan efisiensi mesin. Ya, lomba ini adalah balapan mobil yang efisien, hemat, dan ramah lingkungan. Yang paling tahan lama, yang paling hemat, yang paling ramah lingkungan, dialah yang akan diakui sebagai pemenang di ajang Shell Eco-Marathon ini. Keren? Banget!

Apa tujuan dari Shell Eco-Marathon?
Dari sudut pandang saya pribadi, tujuan dari Shell Eco-Marathon hanya satu, memberi ruang untuk para jenius muda di bidang engineering agar bisa berkontribusi menciptakan teknologi otomotif yang lebih ramah lingkungan, lebih tepatnya hemat energi dan hemat bahan bakar. Dan itu semua akan berakhir pada satu tujuan besar yang diimpikan oleh semua orang, a better future, masa depan yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan tagline yang diusung oleh Shell, make the future.

Apa manfaat dari Shell Eco-Marathon?
Kalau membahas tentang manfaat, maka saya akan buka dengan mengatakan, “Sesuatu yang dimulai atas dasar kebermanfaatan tak akan pernah habis untuk diceritakan,” Namun, secara umum, manfaat yang dapat kita lihat dan rasakan langsung dari hadirnya Shell Eco-Marathon ini antara lain.

Berkembangnya industri otomotif
Inovasi-inovasi yang diciptakan dalam ajang Shell Eco-Marathon ini sangat mungkin untuk dikembangkan oleh perusahaan otomotif nantinya karena inovasi yang diciptakan merupakan kebutuhan semua orang di masa kini dan masa mendatang, yaitu teknologi yang hemat energi dan bahan bakar.

Karena adanya event ini mungkin di masa depan nanti kita akan melihat banyak mobil-mobil minimalis di jalan. Mobil yang dapat menempuh jarak yang sangat jauh dengan konsumsi bahan bakar yang sangat minim. Mobil-mobil seperti mobil Evansville Mater Dei dari Mater Dei High School ini mungkin nanti akan menjadi tontonan sehari-hari di kehidupan kita. Mungkin? Sangat mungkin. Saya percaya itu.


Meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar
Masih berhubungan dengan inovasi dari para peserta Shell Eco-Marathon itu sendiri, event ini akan berpengaruh pada berkembangan mesin-mesin otomotif dan juga bahan bakar yang ada sekarang. Kalau sekarang 1 liter bisa kita gunakan untuk menempuh jarak 10 sampai 15 kilometer, mungkin nanti 1 liter bensin (atau bahan bakar lainnya) dapat digunakan untuk menempuh perjalanan dengan jarak yang lebih-lebih-lebih jauh lagi. Mungkin 50 Km atau mungkin 100 Km? Nothing is imposibble. Saya masih ingat satu pepatah lama, ‘The only limit is your imagination’.

Bahan bakar alternatif
Jujur, saya menemukan istilah ‘bahan bakar alternatif’ dari film animasi Cars 2. Walau bagaimana pun saya yakin bahwa Shell Eco-Marathon dapat menuntun para engineering ini untuk sampai ke tahap menemukan bahan bakar baru yang mungkin lebih ramah lingkungan, bisa diperbaharui, dan tidak terbatas. Kemungkinan seperti itu kan selalu ada, iya kan?

Membangun semangat berinovasi para pemuda di industri otomotif
Seperti yang saya katakan di awal artikel ini, tujuan Shell Eco-Marathon ini mungkin untuk menyalurkan inovasi-inovasi para engineers muda. Namun, secara tidak langsung Shell Eco-Marathon ini akan membakar semangat para peserta untuk menciptakan produk terbaik yang bisa memberi manfaat maksimal bagi semua orang. Kenapa bisa? Karena ini sifatnya kompetisi, bukan pameran. Ada hadiah yang diperebutkan. Dan hadiahnya juga nggak kecil menurut saya.

Nilai hadiah $3.000 atau setara Rp 42.000.000 (empat puluh dua juta rupiah) dengan nilai rupiah Rp14.000/USD merupakan angka yang cukup pantas untuk diperjuangkan menurut saya. Bukan begitu?

Membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya hemat bahan bakar

Ajang ini bukanlah ajang kecil yang diikuti segelintir orang. Shell Eco-Marathon adalah sebuah ajang kompetisi berskala internasional yang tentu terlihat dan terekspos ke masyarakat. Saya yakin tak sedikit orang yang menaruh perhatian ke event ini.

Sedikit demi sedikit Shell Eco-Marathon seperti menaruh pemahaman bahwa energi dan bahan bakar adalah sesuatu yang cukup penting bagi kita dan kita perlu untuk menghemat kedua hal tersebut. Itu tergambar dari apa yang ditampilkan di ajang tersebut, yaitu mobil-mobil ramah lingkungan, dan juga tagline-tagline yang serupa, seperti ‘make the future’ atau ‘energi masa depan’. Sebuah stigma positif yang coba Shell tanamkan di benak masyarakat, dan tentunya saya sangat mengapresiasi pesan tersebut.

Kesimpulan
Secara keseluruhan, saya merasa bahwa Shell Eco-Marathon ini adalah salah satu ajang kompetisi yang tidak boleh sampai berhenti atau dengan kata lain saya ingin bilang ‘harus terus berlanjut’ karena pengaruhnya sangat positif bagi banyak pihak, baik itu masyarakat, pemuda (peserta), maupun Shell itu sendiri.

Menurut saya, Shell Eco-Marathon adalah salah satu gerakan untuk bumi yang lebih baik, hidup yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik dengan bahan bakar dan teknologi kendaraan yang lebih efisien. Saya harap Shell Eco-Marathon dapat menjadi salah satu jembatan menuju masa depan yang lebih baik, seperti halnya dengan tagline-nya, make the future’. Aamiin.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Filosofi Terima Kasih
Beberapa waktu ke belakang saya baru saja mendapatkan pengalaman yang tidak tergantikan. Sebuah pelajaran hidup yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan dan ingin saya bagikan.

Kalian pernah tidak mengucapkan ‘terima kasih’ secara tulus? Tentu pernah. Saya percaya itu.

Ketika seseorang melakukan sebuah kebaikan yang sangat bermakna dan membantu kalian, kalian akan dengan sangat bahagia dan tulus mengucapkan ‘terima kasih’ pada orang yang membantu kalian tersebut terlepas apakah orang itu adalah orang yang kita kenal atau tidak.

Namun, sebenarnya, kata ‘terima kasih’ yang sering kita ucapkan, yang sering kita gunakan mempunyai makna yang lebih dalam. Kenapa kata ‘terima kasih’ ini digunakan? Dalam bahasa Inggris, hanya menggunakan thanks atau thank you.

Tapi kenapa dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘terima kasih’?
Note: Sebelum melangkah lebih jauh, tolong diingat bahwa yang saya tulis ini adalah murni pendapat saya. Saya tidak menggunakan data atau mengambil pernyatan orang lain. Jadi jangan tanya saya sumbernya darimana atau dalilnya apa.

Kata ‘terima kasih’ menurut saya ada kaitannya dengan hukum karma. Ada juga kaitannya dengan pepatah tua, “Kita menuai apa yang kita tanam,”

Kata terima kasih adalah sebuah reminder buat kita untuk selalu berterima kasih pada yang Maha Kuasa? Kok bisa?

Saya kasih contoh biar gampang. Ini pengalaman saya pribadi. Pernah waktu itu saya di daerah Dago Giri, Bandung motor saya mogok. Mogoknya itu pas di tanjakkan, jadi sulit untuk saya memeriksa kenapa motor saya mogok.

Pada saat itu, tiba-tiba, ada seorang pemuda yang turun dari motornya dan menawarkan bantuan. Dia membantu saya mendorong motor saya ke atas sampai saya menemukan bengkel. Dia meninggalkan motor dan barang-barangnya sendiri untuk menolong saya.

Ketika saya sampai di bengkel, saya mengeluarkan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih, tapi dia menolaknya dan langsung pergi sambil tersenyum. Jadi, saya bilang dengan bahagia dan bersemangat, “Makasih, kang.

Sorenya, pada saat saya pulang, di daerah ITB, ada seorang ibu-ibu yang menanyakan jalan pada saya. Entah kenapa, saya merasa sangat tidak enak hati kalau meninggalkannya. Ibu itu sudah cukup berumur saya perhatikan. Akhirnya saya mengantarkan ibu itu ke tempat yang ibu itu cari. Di belakang McDonalds gang yang dicari ibu tersebut. Dari sana, saya minta tukang Ojek mengantarkan ke alamat yang dimaksud. Ibu tersebut lantas tersenyum pada saya sambil mengatakan, “Hatur nuhun nya, kasep.”  yang berarti “Terima kasih ya, ganteng.

Dan saya pun melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan pulang, di daerah Cimindi saya melihat langit berubah jingga. Macetnya jalananan Cimindi hari itu sangat-sangat bisa membuat seseorang menghujat. Tapi, untuk satu alasan yang saya belum yakin apa itu, saya merasa tenang-tenang saja. Begitu menikmati perjalanan macet waktu itu.

Sampai di rumah, saya seketika memikirkan kejadian yang baru saya alami. Tentang bagaimana kata ‘terima kasih’ yang saya berikan pada seseorang yang tidak saya kenal, kembali kepada saya melalui orang yang tidak saya kenal.

Takjub saya memikirkan hal tersebut.

Pelajaran yang ingin saya bagikan pada kawan-kawan melalui kisah saya diatas adalah bahwa kita haruslah berbuat baik pada sesama, baik itu orang yang kita kenal baik, maupun orang asing yang baru saja kita kenal.

Percaya, di dunia ini, ada sebuah sistem astral yang bekerja sedemikian rupa sehingga apa yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita. Sistem terima kasih, untuk sekarang begitulah saya menyebutnya.

Kalau kita menerima sesuatu, akan ada sebuah momen dimana kita akan ngasih (memberi) sesuatu. Kalau kita ngasih sesuatu, kelak kita akan menerima sesuatu yang kurang lebih senilai. Dan itu berlaku untuk hal baik maupun hal buruk.

Maka, lakukanlah hal baik sebanyak dan sesering mungkin (KASIH) karena itu akan kembali pada kita secara misterius (TERIMA).

Bila kita mendapatkan sesuatu (kebaikan) (TERIMA), maka bagikan kebaikan/ kebahagiaan yang kita dapatkan pada orang lain agar orang lain juga merasakannya (KASIH).

Ya, saya pusing harus merangkai kata-kata seperti apa. Intinya, pasti ada sebab terjadi suatu kebaikan pada diri kita. Entah di masa lalu kita pernah melakukannya, atau di waktu mendatang kita akan melakukan kebaikan. Yang jelas, kalimat ‘terima kasih’ punya makna filosofis yang cukup dalam menurut saya.

Mungkin itu sedikit catatan harian yang bisa saya tulis. Saya harap ada hal baik dalam tulisan saya kali ini. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Halo hai, sob~! Apa kabar kalian, bahagia? Senang? Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca dari blog salah seorang expert, menurut saya, tentang isu bahwa blog yang di-hosting di Blogspot akan sulit untuk bisa bersaing dalam hal SEO. Benar nggak, sih?
Oke, jadi ada beberapa hal yang ingin saya bahas:
  1. Apa itu faktor trust?
  2. Pengaruhnya terhadap blogger?
  3. Apa yang harus dilakukan sebagai seorang blogger?
  4. Kesimpulan
Baik, itulah dia hal-hal yang akan saya bahas pada kali ini.

Dalam artikel yang saya bilang tadi menyatakan kalau blog yang di hosting di Blogspot itu sulit untuk SEO karena faktor TRUST.

Apa sih faktor trust itu?
Jadi faktor TRUST yang dimaksudkan dalam bacaan tersebut adalah faktor yang dinilai oleh Google. Google sekarang mulai menilai kualitas suatu web seperti halnya manusia (orang yang mengunjungi web). Faktor trust ini merupakan cara menilai suatu web. Intinya, faktor trust itu dilihat dari:
  • Berapa besar modal yang dikeluarkan? Semakin besar harusnya semakin berkualitas, dong.
  • Seberapa panjang konten yang dimuat? Semakin panjang suatu tulisan semakin berkualitas blog/ web tersebut. Harusnya gitu, kan?
  • Seberapa sering konten di web/blog tersebut di-update? Semakin sering update semakin bagus kualitas web tersebut.
  • Bagaimana link building-nya? Kalau banyak external link-nya, mana bisa dipercaya?
Sip. Kurang lebih itulah beberapa faktor yang menjadi penilaian dari trust-nya suatu web. Secara tidak langsung, artikel tersebut mau bilang:
  • Kalau blog yang di hosted di Blogspot nggak mungkin bisa bersaing, kan gratisan.
  • Kalau konten yang dimuat itu-itu aja, ya sia-sia.
  • Kalau update-nya jarang-jarang, for example seminggu sekali, ya nggak mungkin bisa dipercaya-lah.
  • Kalau upload gambar di Blogspot kan jadi external link, tuh. Ke Blogspot.com. Jadi bakalan jelek untuk SEO blog.

Oke, kalau memang Google Webcrawler sudah menilai sampai ke situ. Yang perlu jadi perhatian kita (kawan yang masih menggunakan Blogger dan saya) adalah poin pertama dulu.

Poin pertama adalah kekuatan kita, blogger yang memanfaatkan the power of Google server. Kita nggak perlu ribet-ribet dan khawatir blog kita bakalan di jailin sama orang, di-Jingling-lah, bomb click-lah, atau perilaku kriminal lainnya karena blog kita secara tidak langsung sudah diurus oleh Google.

Prinsip saya masih seperti prinsip orang kismin pada umumnya, “kalau ada yang gratis dan kualitasnya nggak beda jauh, kenapa harus bayar?

Selanjutnya kita sedikit bahas poin kedua dan poin ketiga. Kedua poin ini berhubungan dengan kualitas konten dan intensitas update suatu blog. Menurut saya pribadi, ada clash antara artikel yang saya baca dengan keyakinan yang saya pegang teguh.

Kalau kalian pernah membaca artikel-artikel PanduanIM.com, kalian mungkin punya pemikiran yang sama dengan saya, “Content is king, quality first, quantity then.

Maksudnya mungkin seperti ini, konten itu yang paling utama dalam web. Kualitas dari konten itu lebih penting ketimbang kuantitasnya. Jadi, mending nulis satu artikel tapi benar-benar solutif, informatif, dan aplikatif.

Ketika kita membuat konten yang memang diperlukan oleh pembaca, pembaca akan senantiasa membaca konten tersebut sampai habis. Karena memang mereka perlu.

Jadi, menurut saya kuantitas konten tidak berbanding lurus dengan trusted atau tidaknya suatu web. Beda cerita kalau web berita, karena yang dikejar adalah hot news.

Oleh karena itu, poin kedua dan ketiga menjadi challenge untuk blogger yang masih pecaya pada Blogspot. Bisa tidak kita membuat konten yang berkualitas tinggi, kalau bisa melebihi konten yang dimuat di web-web berbayar, dalam tempo yang tidak terlalu lama. Satu hari satu konten mungkin.

Dan poin terakhir, berkenaan dengan external link dari gambar. Percaya atau tidak, saya merasa hal itu tidak memberi pengaruh besar. External link bisa jadi jelek kalau disasarkan ke web yang tidak kredibel. Tapi gambar yang diunggah di Blogspot kan tertuju ke Blogspotnya langsung yang popularitas dan kredibilitasnya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Well, ilmu saya soal yang beginian sih masih dasar banget. Saya takut ada kekeliruan, jadi tolong dikoreksi kalau memang ada yang salah.

Apa pengaruhnya terhadap blogger?
Terlepas dari benar atau tidaknya hipotesa yang diangkat oleh artikel yang saya baca tersebut, tentu hal itu akan berdampak pada diri blogger kebanyakan.

Saya yakin bukan cuma saya yang membaca tulisan tersebut. Untuk beberapa blogger muda atau blogger yang baru terjun ke dunia per-blogging-an akan terkontaminasi pemikiran bahwa untuk membuat blog yang bagus haruslah yang berbayar, yang berdomain mahal, yang eksklusif dan hal-hal wah lainnya.

Dan tak mustahil ada beberapa blogger yang motivasi nge-blog-nya untuk jadi tenar, untuk nantinya berjualan, mereka nge-down karena mereka beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan  (nge-blog make Blogspot) itu sia-sia.

Mungkin tidak semua. Tapi saya percaya, ada sebagian kecil, atau mungkin sebagian besar, yang seperti itu.

Apa yang harus dilakukan oleh seorang blogger?
Pertama, pastikan tekad kalian terlebih dahulu. Saya tidak bilang kalau isu yang diangkat itu hoax. Ada kemungkinan kalau itu benar. Jadi, pastikan kalian punya tujuan yang jelas untuk nge-blog.

Kalau tujuan kalian untuk berbisnis di blog dan masih menggunakan layanan gratis dan powerful-nya Blogspot, silahkan siap-siap untuk berhijrah menyewa hosting atau VPS. Supaya kalian tidak tergilas dalam hal SEO.

Tapi, kalau tujuan kalian adalah sharing, berbagi ilmu atau pendapat, mencari ladang pahala, maka stay aja di Blogspot. Manfaatkan Blogspot dan media sosial sepeti Facebook, Twitter, Instagram, Line, Google+, dan daring lainnya untuk memperlihatkan tulisan kalian pada khalayak.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, “Content is king.” Nggak usah ragu untuk percaya kalau konten (tulisan) kita bagus, memberi manfaat bagi yang baca, dengan sendirinya orang akan merekomendasikan, men-share­, dan membaca artikel-artikel lainnya.

Jadi, yang perlu kalian lakukan adalah tentukan pilihan. Hijrah ke web ber-hosting atau stay dengan blog gratisan akan sama saja, karena yang akan dinilai paling utama itu adalah kualitas konten.

Kesimpulan
Pada akhirnya, saya hanya bisa bilang, semuanya kembali pada kawan. Saya mencoba memberikan pendapat saya, tapi jangan lupa kalau saya hanyalah pembelajar (awam) perihal SEO maupun Internet marketing.

Yang jelas, apapun yang kawan pilih, minumnya teh botol Sosro. Mau kawan pindah ke web berbayar atau tetap memilih yang gratis, utamakan konten. Pastikan kawan enjoy menulis konten untuk web kawan dan pastikan konten tersebut memberi dampak positif bagi kawan sebagai penulis maupun pembaca.

Saya percaya, blogger di Indonesia bisa memberi pengaruh positif bagi agama, nusa, dan bangsa.

Itulah sedikit pendapat dari si awam. Semoga ada hal baik yang bisa diambil. Kalau ada yang salah itu sepenuhnya dari saya. Komentar, kritik dan saran saya terima dengan senang hati. Yuk kita diskusi. Terima kasih sudah bersedia membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Halo hai, sob~! Maaf ya kali ini saya lagi pengen nulis yang kurang faedah dulu. Tolong jangan marah apalagi sampai minggat dan nggak mau balik lagi ke blog ini. Huhu.

16 April 2018
Sebuah lagu tak sengaja ku temukan di folder lama laptop-ku.

File bernama Naif – Benci Untuk Mencinta.mp3 entah mengapa sangat menarik perhatian mataku.

Ku buka file tersebut dan lagu lawas pun mulai berputar.

Bait demi bait ku dengar dengan seksama.

Entah karena suasana yang sepi, atau hati, sehingga lagu ini menjadi begitu pas buatku.

Tanpa terasa badanku bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti lagu.

Bibir pun tanpa sadar ikut melantunkan nyanyian lagu itu.

Saat sampai pada bagian, “Aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau, yang kutahu pasti, kubenci untuk mencintaimu” tiba-tiba aku teringat satu nama. Satu wajah yang dulu sangat ku rindu.

Dan hingga kini pun masih begitu.

Aku jadi mengingat kembali kisah senang bersama hingga kisah-kisah pilu.

Haha, terkadang aku bertanya, “Kenapa kisah-kisah dulu sangat lucu?”

Hei kamu, orang yang membuatku tersenyum lepas.

Bagaimana kabarmu disana? Ingatkah siapa aku?

Mungkin tidak. Tak apa. Aku hanya senang bisa terwakilkan oleh sebuah lagu.

Untuk orang yang hingga kini masih ku rindu.

Rindu untuk bertemu dan bertegur sapa.

Ku benci untuk mencintaimu.

Maaf.

Ku benci tak lagi mencintaimu.

Itu benar.

Semoga masih ada waktu untuk kita bisa bertemu.

Entah aku padamu. Atau sebaliknya.

Dari seseorang yang rindu.

Pada bulan yang ditemani bintang-bintang jauh disana.


Itulah sedikit corat-coret yang saya buat untuk melepas rasa gundah ini. Huh, lega rasanya. Semoga ada manfaatnya (saya rasa nggak, sih). Terima kasih sudah mau membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Halo hai, sob~! Kemarin, tanggal 13 April 2018, menjadi satu hari yang sangat berharga tak terlupakan. Bagaimana tidak? Hari itu menjadi bukti bahwa terikatnya dua hati tak perlu berawal dari kisah romansa yang luar biasa indah. Namun bisa dimulai dari pertemuan sederhana di sebuah kelompok kecil yang kusebut komunitas Ruang Ilmu Bandung.

Jadi kemarin, dua insan yang saya sering panggil Kang Deni dan Teh Susi melangsungkan akad nikah untuk mengikat janji setia sehidup semati, sedunia dan seakhirat.

Ada beberapa hal yang membuat saya kagum dari kisah mereka berdua.

Pertama, pertemuan mereka adalah dari acara Gathering Komunitas Ruang Ilmu Bandung yang tujuan utamanya adalah saling kenal sesama anggota komunitas dan mendiskusikan rencana untuk komunitas ke depannya.

Di acara itu, tak jarang anak-anak komunitas bercanda mencomblangkan Kang Deni dengan Teh Susi. Ini mungkin yang menjadi awal langkah besar dua insan ini.

Benar kata orang-orang, jangan sepelekan cie-cie. Ini sudah terbukti bahwa terkadang dari cie-cie-lah muncul rasa yang merekah hingga berakhir dengan berkumandangnya kata SAH. Hati-hati dengan ucapanmu, kawan.

Kedua, kesiapan kedua teman saya tersebut untuk melangkah ke jenjang yang, menurut saya pribadi, perlu kesiapan mental dan materi. Setelah Teh Susi lulus dari program studi yang ditempuh, prosesi pernikahan mereka pun segera dilangsungkan. Menurut saya, ini sesuatu yang luar biasa.

Jujur saya sangat takjub dengan keberanian Kang Deni dan kesiapan The Susi. Menikah di usia yang terbilang masih muda tentu bukan satu hal yang mudah. Melamar seorang perempuan, meminta restu sang orang tua, sang calon mertua, adalah satu perkara yang mungkin sulit bagi sebagian pria. Termasuk saya.

Jadi, so salute, sama kisah persiapan pernikahan mereka berdua.

Ketiga, melihat bagaimana akad nikah serta walimah pasangan ini, jujur saya mengacungi jempol. Satu kata untuk walimahan pesta pernikahan mereka adalah SEDERHANA. Tidak begitu meriah, tapi tetap dapat menunjukkan kebahagiaan.

Saya iri sama walimahan mereka. Ketika pasangan muda-mudi sekarang rela menabung untuk mempersiapkan pesta pernikahan yang unforgettable, mereka justru tidak mau repot dengan hal-hal yang tidak penting. Ibaratnya mereka mau bilang, “Nggak perlu mahal buat bahagia,” Hmm.

Well, pada intinya, kisah mereka berdua sangat memecut saya untuk juga segera ‘menghalalkan’ diri dengan seseorang yang masih ghaib. Huhu. Sangat inspiratif.

Inilah beberapa foto yang diambil oleh anak-anak dari Komunitas Ruang Ilmu Bandung yang turut hadir dalam acara walimahan Kang Deni dan Teh Susi.
Teruntuk Kang Deni dan Teh Susi, kalau kalian baca tulisan saya ini. Maaf saya nggak bisa datang ke walimah-nya. Happy weeding day. Saya turut senang, dan saya berdoa agar keluarga kalian menjadi keluarga yang selalu tentram dan harmonis, keluarga yang selalu bahagia dalam segala keadaan, dan keluarga yang dapat memberi manfaat bagi kehidupan. Aamiin Allahuma Aamiin ya rabbal’alamin.

Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Halo hai, sob~! Mungkin sampai disini Mazdesu belum jadi apa-apa. Belum juga jadi siapa-siapa. Mazdesu sampai saat ini (sampai tulisan ini dipublikasi) masih belum memberi kontribusi yang berarti untuk kalian semua, pembaca setia blog Mazdesu.

Setelah sekian lama nge-blog dan beraktivitas di dunia nyata, saya belajar banyak tentang arti hebatnya sebuah kata ‘manfaat’. Saya jadi sadar betapa krusialnya faktor ‘kebermanfaatan’ dalam suatu hal. Karena itulah, mulai dari sekarang, saya mohon maklum pada kawan semua.

Ada apa sebenarnya?
Mulai sekarang, saya akan menerapkan sekali prinsip BAIK dalam blog ini. Apa itu prinsip BAIK?
  • Bermanfaat: maksudnya artikel yang dimuat di blog Mazdesu itu haruslah memberi pengaruh positif bagi kawan sebagai pembaca dan khususnya bagi saya sendiri bagi orang yang menulis dan mengunggah artikelnya.
  • Aktual: maksudnya artikel yang disajikan di blog ini akan dan harus sesuai dengan fakta (kalau bisa dengan data yang valid mungkin akan lebih joss!) lagi. Jadi, bisa juga dibilang artikel yang disajikan di blog ini adalah artikel yang kredibel. Asik.
  • Informatif: maksudnya artikel yang ada di blog Mazdesu ini dapat menambah wawasan kawan. Setidaknya, dengan membaca artikel-artikel yang ada di Mazdesu, kawan bisa dengan tenang bilang, “Ohh, jadi gitu,”
  • Kekinian: maksudnya, mulai dari sekarang dan seterusnya, saya akan mencoba mencari topik yang sedang ‘hot’ atau istilah anak sekarangnya itu sedang ‘in’. Tapi saya nggak janji, ya? Karena saya juga bukan orang yang terlalu up-to-date terhadap informasi anak muda zaman sekarang.
Walaupun begitu, saya tetap mengikuti kaidah per-blogging-an di Mazdesu, yaitu menggunakan Bahasa Indonesia yang santai dan tidak terikat dengan aturan/ kaidah jurnalistik. Jadi, saya harap kawan tetap bisa santai membaca dan berada di blog Mazdesu ini.

Topik apa saja yang dibahas di akan fokus dibahas di blog ini?
Guna mendukung prinsip saya tadi, saya akan fokuskan blog ini untuk membahas beberapa topik saja. Apa saja?
Blogging
Topik ini tetap akan saya bahas satu atau dua kali dalam beberapa waktu. Dalam topik ini, saya akan coba berbagi pengetahuan saya seputar SEO, tips blogging, berbagi template blogger, serta sedikit kisah motivatif tentang blogging supaya saya dan kawan yang juga nge-blog bisa terus termotivasi dan semangat dalam mengisi blog dengan konten-konten positif.

Islam
Mungkin topik ini akan menjadi salah satu topik yang paling sering saya isi berhubung sekarang ini saya sedang haus-hausnya akan ilmu keagamaan. Saya sedang sangat antusias mempelajari tentang sejarah Islam dan ilmu-ilmu keislamannya. Oleh sebab itu, saya harap maklum. Bukan mau sombong atau apa-apa. Saya menulis artikel di topik ini semata-mata untuk reminder saya pribadi. Jadi, tolong dukung saya ya, kawan?

Opini (Problem solving)
Topik  ini adalah satu dari sekian banyak yang mungkin akan sering saya bahas. Kenapa? Karena yang namanya masalah itu selalu ada dan akan selalu ada setiap harinya, bener nggak? Dan apa yang akan saya bahas? Saya akan mencoba memberikan pandangan saya (si manusia yang bodoh) terkait masalah yang sedang terjadi dan mencoba memberikan solusi yang harapannya aplikatif dan solutif. Begitu~!

Diary
Yah, mungkin topik ini akan tetap ada. Blog ini pada awalnya saya jadikan online diary dan saya rasa akan tetap menjadi seperti itu. Sesekali mungkin saya ingin mencurahkan seluruh hasrat jiwa dan ingin raga ini ke dalam tulisan di blog ini. Sharing sama kawan-kawan tentang masalah yang mungkin sulit dihadapi. I still believe in sharing as a solution of every problem.

Review
Topik review menurut saya akan menjadi salah satu topik yang masih ada. Ada beberapa hal yang mungkin akan sering saya ulas yaitu, tempat wisata, anime, film dan buku. Tak jarang saya juga mengulas hal-hal lain seperti makanan atau service atau website. Just wait and enjoy aja, ya?

Info Digest
Topik ini berkaitan dengan isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan. Saya tahu terkadang kita tidak suka membaca atau membahas politik, perkembangan ekonomi, atau masalah kemanusiaan. Saya sangat maklum. Tidak senang terhadap suatu topik itu hal yang wajar, tapi menutup mata dan telinga terhadapnya itu beda cerita. Kenapa? Kenapa harus menutup diri terhadap isu seperti itu?

Saya pernah diajarkan bahwa tahu itu ada gunanya, setidaknya ketika ada forum yang membahas masalah tersebut, kita bisa ikut ‘nimbrung’ disitu. Kan enak? Nah, topik ini adalah rangkuman khusus yang saya buat mengenai isu-isu tersebut. Jadi, kawan bisa mendapatkan gambaran terhadap suatu isu dan perkembangannya tanpa perlu berlangganan koran ataupun membuka banyak web berita. Ingat, punya wawasan itu baik. Salah satu contohnya adalah artikel berjudul Kronologi Masalah Puisi Sukmawati Soekarnoputri.

Wawasan
Nah, terkait dengan statement saya sebelumnya bahwa punya wawasan itu baik. Oleh karena itu, topik ini mungkin akan muncul di blog ini. Topik ini akan membahas tentang tips seputar dunia internet, how to sederhana. Mungkin bisa dibilang, topik inilah yang nantinya bisa membuat kawan bilang, “Ohh jadi gitu,” Mungkin.

Itulah beberapa topik yang mungkin untuk ke depannya akan banyak saya bahas. Meski begitu, saya harap kawan belum lupa kalau blog ini adalah personal blog, yang berarti blog ini sangat fleksibel. Mungkin nanti saya tiba-tiba mood nulis tentang kuliner, atau tempat wisata, atau mungkin tiba-tiba saya bikin puisi, jangan kaget atau protes, ya?

Oke, jadi itulah yang bisa saya sampaikan tentang apa yang akan saya lakukan di blog Mazdesu ini. Saya harap saya selalu ingat hal ini:
  • Bahwa Imam Syafi’i pernah bilang, “Ilmu yang bermanfaat bukan ilmu yang diingat, tapi yang diamalkan,”
  • Bahwa ada pepetah tua yang mengatakan, “Makin sering ilmu dibagikan, makin pintar.”
  • Bahwa saya berpendapat, “Blog Mazdesu haruslah jadi tempat sharing ilmu, dan self reminder.”
  • Bahwa segala sesuatu haruslah BERMANFAAT.
Terima kasih telah membaca artikel yang mungkin kurang penting ini. Sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Halo hai, sob~! Bagaimana kabar kalian? Dan bagaimana kabar keyakinan politik kalian? Masih stabil? Atau tergonjang-ganjing karena maraknya isu dan problema di dunia perpolitikan negeri ini?
Mungkin kalian juga sudah kenal dengan tagar atau hestek #2019GantiPresiden yang dibuat baju dan ternyata laku keras di Indonesia.

Yang jadi masalah adalah tagar ‘2019 Ganti Presiden’ ini jadi viral dan masalahnya terkesan lebih serius daripada berton-ton ganja yang siap masuk ke Indonesia. Wow.

Dan para warganet atau netizen yang sangat bijaksana pun ikut memanas-manasi topik ini dengan berpendapat pada berita-berita, meme dan hal-hal lain yang berkaitan dengan #2019GantiPresiden ini.

Salah satu yang bikin saya kesel adalah ketika salah satu media berita Indonesia memposting artikel yang kurang lebih membahas tentang kemiripan sosok Jokowi dan Kepemimpinannya dengan sosok Khalifah Umar Bin Khattab, netizen langsung mengkomentari pedas artikel tersebut.

Dan bisa saya simpulkan bahwa 90% warganet puas menghujat Jokowi di kolom komentar artikel berita tersebut. Waw. Fakta menarik, bukan?

Ngakak saya baca komentar-komentar para warganet yang terhormat kala itu. Respon mereka sangat pedas.

*Kok ngakak? Kamu pasti pro Jokowi, ya? Kamu Jokowers?*

Wo.. wo… Wait a second~

Saya bukan pendukung pak Jokowi. Bukan juga pak Prabowo. Atau para bakal calon presiden 2019 nanti. Saya pemilu kemarin saja golput (nggak nyoblos). Saya masih belum punya hak suara waktu itu.

Saya merasa bangsa Indonesia ini sangat cerdas karena mereka bisa memanfaatkan peluang. Warganet seperti biasa, sukses mem-booming-kan sesuatu, dan para pengusaha memanfaatkan viral-nya tagar #2019GantiPresiden untuk keuntungan mereka.

Walhasil, para pengusaha konveksi, baju, selimut, kaos kaki, semua diuntungkan. Perputaran uang jadi nggak keluar (baca: beli barang impor). Kan bagus~! Sering-sering, deh. Serius. Jadi title warganet yang bersemat di dada kita itu tidak hambur. Tik Tok-lah, MoBa-lah.

Saya nggak mau bahas dari segi politik sama sekali. Jujur saya rabun soal politik. Bahkan partai-partai politik saja yang saya tahu hanya beberapa, PDIP karena Pak Jokowi menang kemarin. Gerindra, karena punya Pak Prabowo. PPP, karena gampang. Apalagi coba? Perindo, karena mars-nya sering saya dengar di tv. Ahh, pokoknya kalau dari segi politik saya nggak ngerti.

Lalu, apa sikap saya terhadap isu tersebut?
Baik, sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang cinta damai, saya merasa #2019GantiPresiden itu sebuah bentuk black campaign. Menurut saya. Kenapa? Karena secara tidak langsung gerakan ini merupakan bentuk pencemaran nama baik terhadap pak Joko Widodo.

Saya sendiri tidak ambil pusing untuk perkara ini. Toh, ini tidak berpengaruh pada diri saya secara pribadi. Yang saya lakukan adalah percaya pada pemimpin saya. Udah gitu aja.

Saya mengingat lagi kasus Ahok dulu yang menyinggung ayat suci Al Qur’an. Dari situ saya ingat kalau kriteria pemimpin itu ya dua. Satu dia muslim, dua dia amanah. Ini kriteria pemimpin menurut saya, ya. Jadi, jangan tanya dalilnya apa? Kalau kedua kriteria tersebut terpenuhi, maka sisanya serahkan pada Allah. Gitu, kan?

Yang saya lakukan adalah melakukan yang saya bisa untuk mengejar yang saya mau. Ekonomi Indonesia merosot menurut saya yang salah bukan cuma pemerintahnya, tapi juga rakyatnya. Yuk tambah kreatif lagi, yuk bangun kesadaran untuk mencintai produk lokal, yuk berhenti nuntut pemerintah perbaiki ini itu dan mulai kita dulu yang gerak.

Di awal kepemimpinan pak Jokowi, beliau menggemakan tagline ‘Revolusi Mental’. Nah, itu masalahnya menurut saya. Ada yang salah dengan mental, terutama diri saya sendiri. So, it doesn’t matter who will lead this country, if the mental of the people is poor, the country will be poor no matter how best the leader is.

Oke, sedikit lagi. Menyangkut gerakan #2019GantiPresiden ini, saya ambil secara logis saja. Indonesia itu negara demokrasi dan negara konstitusional. Setiap 5 tahun sekali, selalu ada pemilihan umum untuk menentukan siapa yang layak memimpin negara ini untuk periode 5 tahun mendatang. Jadi, saya menganggap kalau gerakan ini hanyalah reminder kalau 2019 bakal ada Pemilu. Jadi, jangan lupa nyoblos~!

Sudah, nggak usah terlalu concern sama politik. Beresin tugas kita dulu. Yang kuliah beresin kuliahnya. Yang kerja, beresin kerjanya. Coba tanya dulu dalam pada diri pribadi sebelum kita menghujat orang lain, “Kalau saya yang jadi presiden, siap nggak, ya?”

Kalau kawan yang dipilih jadi Presiden, siap atau tidak? Sanggup tidak?

Saya pernah mendengar ini dari Ustadz Hanan Attaki, “kita (manusia) nggak ada yang bisa tahu isi hati manusia, cuma Allah yang tahu. Tugas kita terhadap sesuatu yang ghaib (tidak terlihat) itu cuma satu, khuznudzon.

Dan itulah yang saya pegang sekarang. Satu tahun tersisa kepemimpinan pak Jokowi, saya masih percaya bahwa beliau punya niatan baik untuk membangun dan membawa negeri ini.

Itulah dia sedikit pendapat saya tentang isu yang sedang hangat-hangatnya ini. Saya harap kita bisa berdiskusi santai tanpa saling menyakiti. Cukup Bunga Citra Lestari saja yang kecewa, kita jangan. Keep productive and stay istiqomah. Sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Halo hai, sob~! Kali ini saya mau merangkum satu fenomena yang cukup kontroversional di Indonesia baru-baru ini, yaitu soal pembacaan puisi berjudul Ibu Indonesia yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri yang dianggap menyinggung SARA.

Pasti kalian sedikit banyak pernah mendengar tentang kasus ini iya, kan? Bagaimana pendapat kalian tentang fenomena ini? Sebelum kalian menyatakan pendapat, silahkan kalian baca tanggapan beberapa orang yang pro dan kontra terhadap kasus ini.
Tanggapan yang kontra?
  • Anggota DPD RI Provinsi Gorontalo, Abdurrahman Abubakar Bahmid, “Saya memahami bahwa beliau adalah seorang budayawan, sehingga kalimat yang diucapkan lebih menonjolkan sisi budaya wanita Indonesia dengan tampilan kebaya, konde, cara berjalan yang gemulai dan suara nyanyian wanita. Membandingkan tampilan budaya bangsa Indonesia yaitu dengan baju kebaya, dengan rambut berkonde, dan cara jalan yang gemulai serta suara kidung yang biasa dinyanyikan dengan tampilan seorang muslimah dengan cadarnya dan juga suara adzan, sangat tidak apple to apple,” dikutip dari Islampos.
  • Wakil Ketua Komisi Hukum MUI, Anton-Tabah, “Hukum kan tidak memandang ketidaktahuan, saya pikir ada unsur kesengajaan, saya tidak yakin kalau dia tidak tahu syariat karena di Indonesia cukup banyak informasi apalagi keluarga beliau kan sudah punya ustaz, Sudah banyak yang melaporkan, bahkan Anshor Jawa Timur juga ikut melaporkan. Penistaan agama derajat keresahannya tinggi, keresahaan umat, rakyat tinggi maka ada pasalnya juga cukup berat,” dikutip dari Islampos.
  • Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU, KH Ng. Agus Sunyoto, “Puisi Sukmawati merupakan narasi cara pandang ketinggalan zaman’ karena lahir dari penulis yang merupakan produk sekolahan lama dengan cara pandang lama.” Dikutip dari Islampos.
  • Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, “Sebagai putri Bung Karno, Sukmawati tidak semestinya melakukan hal yang bertentangan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” dikutip dari Eramuslim.
Tanggapan yang pro?
  • Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Johnny G Plate, “Saya waktu membaca sajaknya, melihat ini seorang seniman yang mengekspresikan seni-seninya. Itu merupakan manifestasi perasaannya,” dikutip dari CNN Indonesia.
  • Menteri Agama, Luqman Hakim, “Kita ini bangsa yang penuh kekeluargaan dan saling menghargai, Silakan para ahli yang menilai. Itu puisi, bentuk ekspresi seseorang, mengungkapkan apa yang dia rasakan dan pikirkan dalam bentuk tulisan. Silahkan ahli menilai, apakah ekspresi itu bermasalah atau tidak,” dikutip dari Islampos.
Dan masih banyak lagi tanggapan dari pihak-pihak lain baik yang pro maupun yang kontra. Dari banyak tanggapan tersebut, ada beberapa yang menanggapi kejadian ini dengan cara yang patut diapresiasi. Seperti yang dilakukan oleh Ustadz Felix Shiauw yang membuat puisi balasan untuk Ibu Sukmawati, atau 50 Budayawan Solo yang membacakan puisi bersama dibawah patung Soekarno.

Opini Awam (Mazdesu)
Seni
Kalau dilihat dari aspek seni, tentu seorang seniman punya hak dan kebebasan untuk mengekspresikan perasaannya. Ibu Sukmawati disini tentu punya alasan kenapa dia menulis puisi tersebut.

Dari kabar yang saya baca, alasan Ibu Sukmawati menulis lebih merdu dari alunan adzanmu adalah karena Ibu Sukmawati sendiri sering mendengar adzan yang tidak merdu (menurut dia).

Coba ambil sisi baiknya, saya tidak pro Ibu Sukmawati, tapi saya juga sering mendengar adzan yang kalau kata orang Sunda sih, gugur kawajiban’ yang artinya seadanya. Yang penting ada yang adzan, udah.

Nah, coba kita jadikan ini pelajaran sekaligus motivasi, terkhusus muadzin yang ada di seluruh negeri ini. Mulai dari sekarang, mari kita lantunkan adzan dengan suara yang indah nan merdu (yang terbaik yang kita bisa) agar tidak ada lagi yang berpendapat seperti ibu Sukmawati.

Meski begitu, saya pribadi merasa sedikit penasaran, kenapa ya bu Sukmawati harus membandingkan dua hal yang sebenarnya tidak perlu dibandingkan?

Agama
Ketika membahas dari sisi agama, tentu saja ibu Sukmawati akan terkesan SARA. Gimana nggak SARA, orang makna dari setiap baitnya jelas-jelas menjelekkan cadar dan adzan.

Begitulah komentar netizen kita kurang lebih saudara-saudara.

Tapi menurut saya pribadi (orang yang ilmu agamanya hampir nol), mengkritik secara pedas dan langsung memberi solusi untuk mengkasuskan ibu Sukmawati bukanlah satu pilihan yang bijak. Kebanyakan netizen yang berkomentar selalu saja negatif, dan saran yang mereka berikan pun kurang solutif seperti: penjarakan, laporkan, dll.

Padahal setahu saya, pada zaman Rasulullah, ketika kafir Quraisy memperolok-olok Islam, mengkafirkan Rasulullah, Rasulullah tidak pernah langsung memerintahkan Allah untuk mengadzab atau memerintahkan para sahabat untuk menghabisi’ para kafir Quraisy tersebut. Wallahu’alam.

Kronologi Singkat dan Perkembangan Kasus Puisi Sukmawati Soekarnoputri: Ibu Indonesia
29 Maret 2018
  • Ibu Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul Ibu Indonesia pada acara Pagelaran Peragaan Busana Anne Avantie. [Sumber]
3 April 2018
  • Sukmawati dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Denny Adrian Kushidayat dan Amron Asyhari. [Sumber]
  • Guruh Soekarnoputra, anak pertama Ir. Soekarno, menyayangkan puisi Sukmawati. Ia merasa Ir. Soekarno dan Ibu Fatmawati selalu mengajarkan anak-anaknya dengan syariat islam. [Sumber]
4 April 2018
  • Sukmawati pada akhirnya melakukan klarifikasi dan meminta maaf pada publik. Meski begitu, proses hukum masih berjalan. [Sumber]
Sampai disini saya rasa kronologi untuk kasus ini sudah tidak perlu lagi dilanjutkan, kenapa? Karena menurut saya masalah sebenarnya sudah tuntas. Walau bagaimana pun, karena sudah ada yang melaporkan, proses hukum akan terus beranjut. Jadi, kalau mau tahu kronologi lengkapnya, silahkan ikuti halaman ini.

Kesimpulan
Kesimpulan dari kasus ini adalah bahwa semua orang pernah salah. Ketika seseorang berbuat salah, ayo kita ingatkan dulu baik-baik. Kalau kata Ustadz Evvie Effendy sih, Orang baik punya masa lalu, orang jahat punya masa depan.’ Kalau sudah diingatkan masih nyeleneh keras kepala, baru ambil tindakan tegas. Gitu~!

Saya rasa itulah yang bisa saya tulis untuk artikel saya kali ini. Saya harap kawan cukup dewasa untuk menerima tulisan saya ini. Diskusi, komentar dan saran saya terima dengan sangat senang hati di kolom komentar di bawah. Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Akhmad Syahroni

{facebook#https://www.facebook.com/akhmadsyahroni101} {twitter#https://www.twitter.com/mazdesu} {google-plus#https://plus.google.com} {youtube#https://www.youtube.com} {instagram#https://www.instagram.com/mazdesu}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget