Skip to main content

follow us

Filosofi Terima Kasih
Beberapa waktu ke belakang saya baru saja mendapatkan pengalaman yang tidak tergantikan. Sebuah pelajaran hidup yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan dan ingin saya bagikan.

Kalian pernah tidak mengucapkan ‘terima kasih’ secara tulus? Tentu pernah. Saya percaya itu.

Ketika seseorang melakukan sebuah kebaikan yang sangat bermakna dan membantu kalian, kalian akan dengan sangat bahagia dan tulus mengucapkan ‘terima kasih’ pada orang yang membantu kalian tersebut terlepas apakah orang itu adalah orang yang kita kenal atau tidak.

Namun, sebenarnya, kata ‘terima kasih’ yang sering kita ucapkan, yang sering kita gunakan mempunyai makna yang lebih dalam. Kenapa kata ‘terima kasih’ ini digunakan? Dalam bahasa Inggris, hanya menggunakan thanks atau thank you.

Tapi kenapa dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘terima kasih’?
Note: Sebelum melangkah lebih jauh, tolong diingat bahwa yang saya tulis ini adalah murni pendapat saya. Saya tidak menggunakan data atau mengambil pernyatan orang lain. Jadi jangan tanya saya sumbernya darimana atau dalilnya apa.

Kata ‘terima kasih’ menurut saya ada kaitannya dengan hukum karma. Ada juga kaitannya dengan pepatah tua, “Kita menuai apa yang kita tanam,”

Kata terima kasih adalah sebuah reminder buat kita untuk selalu berterima kasih pada yang Maha Kuasa? Kok bisa?

Saya kasih contoh biar gampang. Ini pengalaman saya pribadi. Pernah waktu itu saya di daerah Dago Giri, Bandung motor saya mogok. Mogoknya itu pas di tanjakkan, jadi sulit untuk saya memeriksa kenapa motor saya mogok.

Pada saat itu, tiba-tiba, ada seorang pemuda yang turun dari motornya dan menawarkan bantuan. Dia membantu saya mendorong motor saya ke atas sampai saya menemukan bengkel. Dia meninggalkan motor dan barang-barangnya sendiri untuk menolong saya.

Ketika saya sampai di bengkel, saya mengeluarkan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih, tapi dia menolaknya dan langsung pergi sambil tersenyum. Jadi, saya bilang dengan bahagia dan bersemangat, “Makasih, kang.

Sorenya, pada saat saya pulang, di daerah ITB, ada seorang ibu-ibu yang menanyakan jalan pada saya. Entah kenapa, saya merasa sangat tidak enak hati kalau meninggalkannya. Ibu itu sudah cukup berumur saya perhatikan. Akhirnya saya mengantarkan ibu itu ke tempat yang ibu itu cari. Di belakang McDonalds gang yang dicari ibu tersebut. Dari sana, saya minta tukang Ojek mengantarkan ke alamat yang dimaksud. Ibu tersebut lantas tersenyum pada saya sambil mengatakan, “Hatur nuhun nya, kasep.”  yang berarti “Terima kasih ya, ganteng.

Dan saya pun melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan pulang, di daerah Cimindi saya melihat langit berubah jingga. Macetnya jalananan Cimindi hari itu sangat-sangat bisa membuat seseorang menghujat. Tapi, untuk satu alasan yang saya belum yakin apa itu, saya merasa tenang-tenang saja. Begitu menikmati perjalanan macet waktu itu.

Sampai di rumah, saya seketika memikirkan kejadian yang baru saya alami. Tentang bagaimana kata ‘terima kasih’ yang saya berikan pada seseorang yang tidak saya kenal, kembali kepada saya melalui orang yang tidak saya kenal.

Takjub saya memikirkan hal tersebut.

Pelajaran yang ingin saya bagikan pada kawan-kawan melalui kisah saya diatas adalah bahwa kita haruslah berbuat baik pada sesama, baik itu orang yang kita kenal baik, maupun orang asing yang baru saja kita kenal.

Percaya, di dunia ini, ada sebuah sistem astral yang bekerja sedemikian rupa sehingga apa yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita. Sistem terima kasih, untuk sekarang begitulah saya menyebutnya.

Kalau kita menerima sesuatu, akan ada sebuah momen dimana kita akan ngasih (memberi) sesuatu. Kalau kita ngasih sesuatu, kelak kita akan menerima sesuatu yang kurang lebih senilai. Dan itu berlaku untuk hal baik maupun hal buruk.

Maka, lakukanlah hal baik sebanyak dan sesering mungkin (KASIH) karena itu akan kembali pada kita secara misterius (TERIMA).

Bila kita mendapatkan sesuatu (kebaikan) (TERIMA), maka bagikan kebaikan/ kebahagiaan yang kita dapatkan pada orang lain agar orang lain juga merasakannya (KASIH).

Ya, saya pusing harus merangkai kata-kata seperti apa. Intinya, pasti ada sebab terjadi suatu kebaikan pada diri kita. Entah di masa lalu kita pernah melakukannya, atau di waktu mendatang kita akan melakukan kebaikan. Yang jelas, kalimat ‘terima kasih’ punya makna filosofis yang cukup dalam menurut saya.

Mungkin itu sedikit catatan harian yang bisa saya tulis. Saya harap ada hal baik dalam tulisan saya kali ini. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar