Skip to main content

follow us

Kronologi Masalah Puisi Sukmawati Soekarnoputri
Halo hai, sob~! Kali ini saya mau merangkum satu fenomena yang cukup kontroversional di Indonesia baru-baru ini, yaitu soal pembacaan puisi berjudul Ibu Indonesia yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri yang dianggap menyinggung SARA.

Pasti kalian sedikit banyak pernah mendengar tentang kasus ini iya, kan? Bagaimana pendapat kalian tentang fenomena ini? Sebelum kalian menyatakan pendapat, silahkan kalian baca tanggapan beberapa orang yang pro dan kontra terhadap kasus ini.
Tanggapan yang kontra?
  • Anggota DPD RI Provinsi Gorontalo, Abdurrahman Abubakar Bahmid, “Saya memahami bahwa beliau adalah seorang budayawan, sehingga kalimat yang diucapkan lebih menonjolkan sisi budaya wanita Indonesia dengan tampilan kebaya, konde, cara berjalan yang gemulai dan suara nyanyian wanita. Membandingkan tampilan budaya bangsa Indonesia yaitu dengan baju kebaya, dengan rambut berkonde, dan cara jalan yang gemulai serta suara kidung yang biasa dinyanyikan dengan tampilan seorang muslimah dengan cadarnya dan juga suara adzan, sangat tidak apple to apple,” dikutip dari Islampos.
  • Wakil Ketua Komisi Hukum MUI, Anton-Tabah, “Hukum kan tidak memandang ketidaktahuan, saya pikir ada unsur kesengajaan, saya tidak yakin kalau dia tidak tahu syariat karena di Indonesia cukup banyak informasi apalagi keluarga beliau kan sudah punya ustaz, Sudah banyak yang melaporkan, bahkan Anshor Jawa Timur juga ikut melaporkan. Penistaan agama derajat keresahannya tinggi, keresahaan umat, rakyat tinggi maka ada pasalnya juga cukup berat,” dikutip dari Islampos.
  • Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU, KH Ng. Agus Sunyoto, “Puisi Sukmawati merupakan narasi cara pandang ketinggalan zaman’ karena lahir dari penulis yang merupakan produk sekolahan lama dengan cara pandang lama.” Dikutip dari Islampos.
  • Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, “Sebagai putri Bung Karno, Sukmawati tidak semestinya melakukan hal yang bertentangan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” dikutip dari Eramuslim.
Tanggapan yang pro?
  • Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Johnny G Plate, “Saya waktu membaca sajaknya, melihat ini seorang seniman yang mengekspresikan seni-seninya. Itu merupakan manifestasi perasaannya,” dikutip dari CNN Indonesia.
  • Menteri Agama, Luqman Hakim, “Kita ini bangsa yang penuh kekeluargaan dan saling menghargai, Silakan para ahli yang menilai. Itu puisi, bentuk ekspresi seseorang, mengungkapkan apa yang dia rasakan dan pikirkan dalam bentuk tulisan. Silahkan ahli menilai, apakah ekspresi itu bermasalah atau tidak,” dikutip dari Islampos.
Dan masih banyak lagi tanggapan dari pihak-pihak lain baik yang pro maupun yang kontra. Dari banyak tanggapan tersebut, ada beberapa yang menanggapi kejadian ini dengan cara yang patut diapresiasi. Seperti yang dilakukan oleh Ustadz Felix Shiauw yang membuat puisi balasan untuk Ibu Sukmawati, atau 50 Budayawan Solo yang membacakan puisi bersama dibawah patung Soekarno.

Opini Awam (Mazdesu)
Seni
Kalau dilihat dari aspek seni, tentu seorang seniman punya hak dan kebebasan untuk mengekspresikan perasaannya. Ibu Sukmawati disini tentu punya alasan kenapa dia menulis puisi tersebut.

Dari kabar yang saya baca, alasan Ibu Sukmawati menulis lebih merdu dari alunan adzanmu adalah karena Ibu Sukmawati sendiri sering mendengar adzan yang tidak merdu (menurut dia).

Coba ambil sisi baiknya, saya tidak pro Ibu Sukmawati, tapi saya juga sering mendengar adzan yang kalau kata orang Sunda sih, gugur kawajiban’ yang artinya seadanya. Yang penting ada yang adzan, udah.

Nah, coba kita jadikan ini pelajaran sekaligus motivasi, terkhusus muadzin yang ada di seluruh negeri ini. Mulai dari sekarang, mari kita lantunkan adzan dengan suara yang indah nan merdu (yang terbaik yang kita bisa) agar tidak ada lagi yang berpendapat seperti ibu Sukmawati.

Meski begitu, saya pribadi merasa sedikit penasaran, kenapa ya bu Sukmawati harus membandingkan dua hal yang sebenarnya tidak perlu dibandingkan?

Agama
Ketika membahas dari sisi agama, tentu saja ibu Sukmawati akan terkesan SARA. Gimana nggak SARA, orang makna dari setiap baitnya jelas-jelas menjelekkan cadar dan adzan.

Begitulah komentar netizen kita kurang lebih saudara-saudara.

Tapi menurut saya pribadi (orang yang ilmu agamanya hampir nol), mengkritik secara pedas dan langsung memberi solusi untuk mengkasuskan ibu Sukmawati bukanlah satu pilihan yang bijak. Kebanyakan netizen yang berkomentar selalu saja negatif, dan saran yang mereka berikan pun kurang solutif seperti: penjarakan, laporkan, dll.

Padahal setahu saya, pada zaman Rasulullah, ketika kafir Quraisy memperolok-olok Islam, mengkafirkan Rasulullah, Rasulullah tidak pernah langsung memerintahkan Allah untuk mengadzab atau memerintahkan para sahabat untuk menghabisi’ para kafir Quraisy tersebut. Wallahu’alam.

Kronologi Singkat dan Perkembangan Kasus Puisi Sukmawati Soekarnoputri: Ibu Indonesia
29 Maret 2018
  • Ibu Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul Ibu Indonesia pada acara Pagelaran Peragaan Busana Anne Avantie. [Sumber]
3 April 2018
  • Sukmawati dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Denny Adrian Kushidayat dan Amron Asyhari. [Sumber]
  • Guruh Soekarnoputra, anak pertama Ir. Soekarno, menyayangkan puisi Sukmawati. Ia merasa Ir. Soekarno dan Ibu Fatmawati selalu mengajarkan anak-anaknya dengan syariat islam. [Sumber]
4 April 2018
  • Sukmawati pada akhirnya melakukan klarifikasi dan meminta maaf pada publik. Meski begitu, proses hukum masih berjalan. [Sumber]
Sampai disini saya rasa kronologi untuk kasus ini sudah tidak perlu lagi dilanjutkan, kenapa? Karena menurut saya masalah sebenarnya sudah tuntas. Walau bagaimana pun, karena sudah ada yang melaporkan, proses hukum akan terus beranjut. Jadi, kalau mau tahu kronologi lengkapnya, silahkan ikuti halaman ini.

Kesimpulan
Kesimpulan dari kasus ini adalah bahwa semua orang pernah salah. Ketika seseorang berbuat salah, ayo kita ingatkan dulu baik-baik. Kalau kata Ustadz Evvie Effendy sih, Orang baik punya masa lalu, orang jahat punya masa depan.’ Kalau sudah diingatkan masih nyeleneh keras kepala, baru ambil tindakan tegas. Gitu~!

Saya rasa itulah yang bisa saya tulis untuk artikel saya kali ini. Saya harap kawan cukup dewasa untuk menerima tulisan saya ini. Diskusi, komentar dan saran saya terima dengan sangat senang hati di kolom komentar di bawah. Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar