May 2018

Cintailah Produk-produk Indonesia
Beberapa waktu lalu, ketika sedang berkomunitas, saya tidak sengaja menonton vidio stand up comedy seorang komika kelas kakap Indonesia, Sammy Notaslimboy. Topiknya adalah semua tentang Indonesia. Kalau mau tau seperti apa vidionya, silahkan ditonton sendiri di bawah ini.

Ada satu hal yang membuat saya agak kesal sebenarnya, yaitu ketika dia bilang, “Beli produk dalam negeri? Kalau mau dibeli, perbaiki dulu kualitasnya, kalau udah bagus, baru kita beli,

Honestly, as an ex-debater, thing like this is really debatable. Ada argumen yang tertahan kala itu. Ada pandangan yang tak tersalurkan melalui lisan. Jadi, saya putuskan untuk memberikan pandangan saya terhadap penyataan komika yang katanya suka nge-gas ini melalui tulisan.

Ok, here we go.

Pertama, mungkin kalian pernah dengar candaan kaya gini: katanya “Cintailah produk-produk Indonesia” tapi yang ngomongnya orang Cina. Pernah? Saya yakin pasti pernah. Kalau pernah itu normal, karena itu adalah bentuk racism fun/jokes yang dianggap lazim di negeri kita.

Kalau kita pikirkan lagi, sebenarnya bentuknya sama kaya bercanda tentang warna kulit. Bedanya, khususnya di Amerika sana, hal-hal seperti itu agak sedikit tabu dan sensitif, apalagi di tahun-tahun 1700-1900an. Singgung sedikit tentang racism, kita bisa dibakar hidup-hidup.

So, stop make fun of race nor do religion. It is fun, but not intellectual. It is short of the lowest level of punch line, I think.

Jokes kaya gini itu mentah relevansi dan miskin validasi informasi, atau bahasa gampangnya, lebih mengutamakan nilai ‘yang penting lucu’ ketimbang benar. Kenapa? Karena orang Cina yang selalu dijadikan bahan candaan tidak lain dan tidak bukan merupakan orang Indonesia asli yang kebetulan keturunan Cina. Siapakah dia? Alim Markus-lah namanya. Mau tahu lebih jauh? Silahkan cari di Google.

Oke, sebenarnya itu cuma intermezzo sebelum masuk ke poin saya yang utama. Mari kita mulai masuk ke main course.

Kedua, masalah kita adalah tingginya rasa pride and proud to use import products. Paham? Orang Indonesia, khususnya pemudanya, itu punya kecenderungan bangga menggunakan barang-barang luar negeri sehingga mereka mendewakannya (baca: fanatik).

Saking mendewakannya, kita sampai beranggapan bahwa kualitas barang impor itu yang terbaik dan pasti lebih bagus dari produk lokal. Produk lokal itu minim trial error, dibuatnya kadang sejadinya, nggak certified, atau lain-lain. Jujur aja kita pasti punya pemikiran kaya gitu, termasuk saya sendiri, kok.

Tapi sebenarnya, produk lokal kita itu bisa bersaing, bahkan saya berani bilang sangat bisa bersaing. Hanya saja mata kita masih terlalu dikerucutkan pada produk-produk impor karena merekalah yang menguasai media. Mereka yang punya pity untuk membuat iklan serba wah.

Fun fact, mungkin kalian juga sudah pernah dengar, bahwa merchandise resmi Manchester United yang dijual di Old Trafford adalah Made in Indonesia karena kualiasnya yang terbaik. Sepatu Nike diproduksi di negara kita, oleh tangan-tangan tidak certified orang Indonesia karena hasilnya terbaik. Bahkan animator-animator, aktor, seniman, ahli IT, banyak yang direkrut oleh negara lain karena talenta yang mereka miliki dan mereka asah di negeri ini adalah yang terbaik.

Kalau saya boleh sedikit nyinggung politik, masalah kita seperti apa yang pak Joko Widodo pernah singgung, Revolusi Mental. Biar saya kasih contoh.

Saya punya seorang teman yang agak nyandu sama brand fashion import, sebut saja dia De. Sekali saya diajak menemani dia berbelanja untuk membeli sebuah topi dan jaket Supreme. Overall, dia menghabiskan 2,5 juta rupiah untuk dua item tersebut.

Waktu saya coba jaketnya, rasanya sama. Kirain saya ada sensasi adem gimana gitu kaya ada AC-nya. Ternyata sama saja. Ternyata yang membedakan hanya brand dan gengsi. Emang sih desainnya keren, tapi nggak wah, gitu, cuma keren karena beda aja. Kalau cuma nyari beda, banyak ide kreatif di kepala para pemuda negeri ini yang lebih wah.

Jelas sekali ini adalah masalah mental. Dan jujur, sampai sekarang, saya belum menemukan solusi kongkrit untuk merealisasikan tagline Revolusi Mental yang pernah ada namun hilang entah kemana. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah membantu menyuarakan pesan, cintailah produk-produk Indonesia baik melalui tulisan, lisan maupun aksi nyata membeli produk lokal, Indonesia.

Ketiga, masalah lainnya adalah tuntutan ‘kalau mau dibeli, perbaiki dulu kualitasnya,’ Coba kita balik tanya, gimana para pebisnis lokal bisa memperbaiki atau mengembangkan kualitas produk mereka kalau kita tidak membelinya?

Kadang kita men-judge produk mereka kurang berkualitas karena iklannya biasa-biasa aja, atau karena review/ rating-nya sedikit.

Ini masalah utamanya, mereka nggak bisa memperbaiki karena salahnya mereka kadang ditunjukan secara subjektif. Kasarnya, banyak orang yang beli nggak, ngomen iya. Itu secara tidak langsung membuat brand lokal jadi down.

Karenanya, mereka mau ngejar balik modal aja susah, apalagi mau ngembangin produk.

Kalau kita berkaca ke Cina, mereka itu mencoba independen (atau mungkin nasionalis secara totalitas) di segala hal agar dapat mandiri ekonomi. Cina bikin situs pencarian sendiri agar mereka tidak memperkaya Google yang punya luar, bikin situs jual-beli sendiri agar mereka tidak memperkaya eBay dan Amazon yang punya luar, bahkan bikin hp sendiri (meski teknologinya ada yang bilang nyontek) agar mereka nggak memperkaya perusahaan luar.

Lihat mereka sekarang? Adidaya dan mandiri secara ekonomi (dilihat secara nasional). Bahkan ada yang memperkirakan bahwa di tahun 2025 Cina akan menjadi negara produsen terkaya melebihi Amerika. Semuanya karena apa? Simple! Dengan mulai mencintai produk-produk dalam negeri.

Indonesia pun demikian. Industri otomotif mau motor atau mobil, kita sudah punya. Masalahnya adalah mahal, jadi nggak ada yang mau beli dan balik beli produk luar, akhirnya pengusahanya nggak berkembang.

Handphone, sudah ada yang mau nyoba bikin dan ngembangin, tapi langsung dibanding-bandingkan dengan brand besar, akhirnya terlihat kurang/ jelek, nggak ada yang beli, akhirnya nggak berkembang.

Semua kurang-lebih polanya sama. Kita menutut para produsen lokal langsung membuat yang wah, dengan harga yang murah, yang mana itu tidaklah mudah. Karena kalau memang mau mandiri secara ekonomi, perputaran uang harus secara murni mengalir di dalam (kalau perlu nggak ada angel investor dari luar) agar keuntungan sepenuhnya untuk kemaslahatan produsen, bangsa dan negara.

Pertanyaan besarnya sanggup nggak?

Mau nggak kita lepas ketergantungan kita terhadap produk-produk luar untuk sesaat? Mau nggak kita sama-sama mundur beberapa langkah ke belakang untuk melompat jauh ke depan? Kalau iya, mulailah dari membeli produk-produk dalam negeri.
Saya selalu menanamkan ini dalam diri.
Hidup terlalu singkat untuk mengedepankan glamour dan gengsi.
Hidup terlalu berharga untuk dibuang mengejar materi yang sifatnya temporary.
Hidup lebih indah bila kita mementingkan kebersamaan dan berbagi.
Hidup lebih bermakna ketika kita bisa melihat mereka yang kita cintai.
Hidup bahagia dan sentosa di negeri mereka sendiri.
Saya harap, mimpi saya ini bisa terwujud dengan cara yang luar biasa. Sebuah harapan kecil dimana bangsa ini punya rasa bangga tinggi terhadap produk dalam negeri.

Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Jadi Pandai Bersyukur
Tulisan saya kali ini berhubungan dengan kalimat, “never ending gratitude for life” yang artinya kurang lebih adalah Syukur Tiada Akhir.

Apa itu syukur dan bersyukur?

Izinkan saya mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tentang makna syukur ini. Menurut KBBI, syukur /syu.kur/ merupakan rasa terima kasih (kepada Allah), sedangkan bersyukur /ber.syu.kur/ adalah berterima kasih atau mengucapkan syukur. Jadi kurang lebih syukur merupakan sebuah bentuk ekspresi kebahagiaan yang disalurkan dengan cara berterima kasih, entah itu kepada Tuhan, keluarga, ataupun orang yang membuat kita bersyukur.

Dampak dari bersyukur?

Bicara soal dampak, tentu ada baik dan negatifnya. Sejauh ini, saya belum menemukan dampak negative menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur. Adapun dampak positifnya saya temukan dari sebuah pernyataan dari Profesor Frederickson dalam bukunya yang berjudul Positivity.
“Always being grateful is a habit which is easy to be done, but dramatically beneficial to our life.” Bersyukur adalah sebuah kebiasaan yang begitu mudah dilakukan, namun begitu dramatis manfaatnya bagi hidup kita.

Dari penelitian yang beliau lakukan, beliau menyatakan bahwa orang yang senantiasa bersyukur, lebih bahagia hidupnya, lebih sehat tubuhnya, lebih fresh, terbuka dan kritis orangnya.

Dan tentu saja pendapat dari siapapun, bahkan seorang profesor sekalipun, boleh saja tidak diterima. Itu hak prerogratif setiap individu. But I personally think that what he found is actually correct.

Kenapa?

Sering saya bertemu orang-orang yang open-minded dan selalu berpikiran positif dalam menjalani hidup. Mereka kaya yang nggak punya beban aja. Well, saya sedikitnya tahu mereka sedang punya masalah, entah itu berhubungan dengan ekonomi, kisah cinta yang tidak berjalan dalam harmoni, atau akademi. Kok saya tahu? Sederhana, karena secangkir kopi kadang bisa mencairkan es yang menghambat orang untuk terbuka.

Kapan dan dimana kita harus bersyukur?

Bersyukur itu harus kita jadikan seperti bernafas. Kita melakukannya dimana saja dan selamanya. Alasannya sederhana, karena kita perlu dan ingin bahagia selamanya, kan? Memang ada kalanya sedih dan air mata bisa mengurangi masalah, tapi senyuman dan semangat ceria bisa mengubah masalah menjadi tantangan. Sehingga, ketimbang kita termenung tentang masalah, mending kita semangat untuk solve the problem. Setuju?

Bagaimana caranya bersyukur?

Sebenarnya pertanyaan ini cukup bodoh saya rasa kalau sampai benar-benar ditanyakan. Tapi, mungkin karena depresi yang terlalu lama dan mendalam membuat kita lupa arti kata bahagia. Jadi, izinkan saya mengingatkan kembali cara untuk bersyukur.

Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa syukur adalah rasa terima kasih atas apa yang kita miliki. Maka yang perlu kita lakukan adalah katakan, “Terima kasih … untuk …” Silahkan kalian isi titik-titik yang diperlukan.

Isian yang pertama adalah subjek yang kalian ingin berterima kasih kepadanya.
Isian yang kedua adalah objek yang kalian ingin berterima kasih untuknya.

Contoh: “Terima kasih tukang parkir untuk jasanya melindungi motorku selama ku tak ada.”

Jangan memikirkan orang-orang hebat yang benar-benar berpengaruh di hidup kita. Lihatlah aspek-aspek kecil yang bersentuhan dengan kita seperti sinar matahari di pagi hingga sore hari, oksigen yang bisa kita hidup setiap hari, kebersamaan dan kehangatan sosial yang selalu kita rasakan setiap waktu, itu adalah objek sederhana yang kadang kita lupa untuk berterima kasih atasnya.

Berterima kasih tidak memerlukan biaya, hanya perlu sedikit kemauan, dan kita bisa merasakan manfaatnya bersama-sama.

Terlebih, syukur itu merupakan contoh bahwa kita adalah umat yang beragama.

Jadi, mulai sekarang, setelah selesai membaca sampai akhir tulisan ini, mari kita mulai langkah kita menjadi pribadi yang lebih mudah dan lebih sering bersyukur. Semoga kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan lebih senang dengan selalu bersyukur.

Terima kasih telah membaca, krisar dan komentar kawan selalu saya tunggu di kolom diskusi di bawah. Mohon maaf atas segala kekurangannya. Sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Sakapeung, Elmu Teh Ngahesekeun…
Entah kenapa hari ini saya ingin sekali curhat perkara kalimat, “Sakapeung, elmu teh ngahesekeun,” yang saya dengar dari salah satu ustadz yang saya kagumi, Ustadz Evie Effendi.

Untuk orang Sunda pasti tahu arti dari kalimat tersebut. Kurang lebih maknanya adalah, “Kadang, ilmu itu menghambat,” Setidaknya itulah yang saya ingin bahas.

Setuju nggak dengan statement ini?

Kadang saya merasa, semakin banyak ilmu yang dipelajari, semakin banyak pengetahuan yang didapat, menghambat saya untuk bekerja, apalagi kalau judulnya gratisan.

Mengapa menghambat?

Karena ketika kita sudah punya ilmu, kadang, kita lebih memutuskan dengan logika ketimbang rasa. Lebih mengedepankan legislasi dan teori daripada aksi. Dan parahnya kadang kita lebih mengagungkan keuntungan ketimbang kemaslahatan.

Pernah saya melihat ada sebuah kecelakaan mobil. Sebuah mobil parkir terlalu mepet sehingga bannya masuk ke selokan. Bapak-bapak pun berkumpul mencoba menolong mobil tersebut.

Karena memang itu komplek elit, saya yakin mereka orang-orang yang ‘berpendidikan’. Hal itu pun makin jelas ketika saya mendengarkan percakapan para bapak-bapak terhormat tersebut yang sibuk membahas teori-teori cara mengeluarkan ban mobil yang masuk got tersebut secara ‘cerdas dan elegan’.

‘Panggil derek’-lah, ambil ini-lah itu-lah. Ribet. Terlalu teoritis dengan dalil, “Kita itu harus kerja pintar,” Sedangkan bapak-bapak yang sehari-harinya dagang, sekuriti, atau mungkil hanya kuli panggul mengambil inisiatif masuk ke dalam selokan lalu menyimpan beberapa lapis papan di bawah ban mobil dan sebagian lainnya mengangkat mobil dari bawah selokan.

Akhirnya, dengan sedikit kotor-bau-lelah, mobil terperosok tersebut bisa dikeluarkan. Nggak perlu panggil mobil derek, nggak perlu ambil barang-barang yang sekiranya memakan waktu. Cukup perlu jadi sedikit bodoh untuk ingat kalau selokan itu kotor, dan utamakan aksi ketimbang teori karena AKSI akan menghasilkan REAKSI sedangkan TEORI hanya menghasilkan ASUMSI.

Dari kejadian itu saya kadang jadi bertanya, “Apa memang iya kuliah itu membuat seorang menjadi lebih cerdas?

Kadang saya berharap saya punya gelar pendidikan dan wawasan yang seluas-luasnya, tapi dengan respon dan pola pikir seperti ‘rakyat biasa’. Pola pikir ‘yang penting beres dulu, masalah ini efektif atau nggak, hambur atau nggak, melanggar hukum atau nggak, itu urusan ntar’-lah yang ingin saya miliki dan saya harap banyak orang punya pola pikir demikian.

Belum lagi, kadang karena kita sudah ‘berilmu’ kita jadi agak sedikit perhitungan untuk memberi bantuan. “Saya udah sekolah mahal, masa ilmu saya mau saya kasih secara cuma-cuma?” Ya, kaya jadi dokter itu kan kuliahnya mahal, masa kalau ada tetangga sakit, kita obatin cuma-cuma di rumahnya? Mending bawa ke Rumah Sakit dulu aja biar bisa jadi uang.

Oke, itu kayanya terlalu sinetron, but I’m not joking around.

Saya yakin, ada satu atau banyak manusia money-oriented yang punya cara pandang seperti itu.

Belum lagi, kadang, ketika kita sudah punya gelar akademik, kita agak minder untuk gaul di warkop pinggiran. Padahal, percakapan di warung kopi kadang tidak akademis maupun filosopis tapi lebih sesuai dengan realita. It is true, buds!

Overall, kadang ilmu itu membuat kita terlalu banyak menghitung untung-rugi.
Membuat kita terlalu banyak argumentasi dan diskusi.
Membuat kita arogan dan merasa tinggi.
Again, my problem is only, sakapeung elmu teh ngahesekeun.

Semoga ada hikmah dari tulisan geje saya ini. Terima kasih telah bersedia membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Little Busters! Bahasa Indonesia
Kali ini saya ingin sedikit mengulas salah satu anime yang baru saja selesai saya tonton. Dari judul artikelnya juga pasti kawan sudah bisa menebaknya iya, kan? Judul anime-nya adalah Little Busters!

Kawan sudah pernah nonton? Kalau sudah, boleh dong sedikit minta komentarnya, gimana menurut kawan anime ini? Kalau belum, sebelum nonton, nih dibaca dulu sedikit detail tentang anime ini:

Judul: Little Busters!
Episode: 26 Episode
Tanggal Tayang: 6 Oktober 2012
Musim: Fall 2012
Produser: Warner Bros, Showgate
Lisensor: Sentai Filmworks
Studio: J.C. Staff
Sumber Cerita: Visual Novel
GenreSlice of Life, Comedy, Supernatural, Drama, School

Sinopsis

Anime ini bercerita tentang sekelompok anak SMA yang ‘gabut’ sehingga mereka memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas atau kelompok atau ekstrakurikuler baseball bernama Little Busters! Dengan Kyousuke-kun sebagai pemimpinnya dan Naoe-kun atau Riki-kun sebagai tokoh penting dalam anime ini. Anime ini menunjukkan kehidupan sehari-hari kelompok anak SMA ini. Kurang lebih seperti itulah, untuk tahu lebih lengkap, mending nonton aja.

Storyline

Awalnya cerita anime saaaangatlah biasa, saya kira begitu. Hanya cerita slice of life sekelompok anak SMA yang lucu-lucuan, gila-gilaan, seru-seruan bareng. Ketika saya nonton sampai selesai, ternyata anime ini lebih dari sekedar slice of life. Ada banyak moral lessons yang bisa kita ambil dari anime ini.

Ceritanya merupakan perpaduan antara ringan, yang cuma lucu-lucuan, dan berat yang bikin baper dan so sad. Meski tak dipungkiri ada beberapa unsur pamohalan (mustahil/ tidak masuk akal) di dalamnya, tapi namanya juga anime. Dari segi cerita, memang tensinya agak lambat, tapi masih bisa dinikmati kok, malah pake BANGET~!

Grafis

Setelah sekian lama saya nggak nonton anime, Little Busters! ini menjadi obat untuk rindu saya. Jujur, anime ini masih menggunakan teknologi grafis yang belum terlalu canggih, masih klasikan tahun 2000-an kaya grafis Naruto, gitu. Dan, saya tidak keberatan dengan grafis seperti ini.

Karakter

Meskipun grafis dari anime ini tidak luar biasa, menurut saya karakter yang dimunculkan tetap bisa terbilang moe, kawaii, dan kuuru (cool). Ini juga mungkin karena didukung oleh cerita yang menarik sehingga orang bisa sangat nyaman dengan karakter-karakter yang hadir.

Dan sifat dari setiap karakter terbilang unik sehingga membuat cerita ini sangat colorful. Ada karakter yang tsundere, ada yang bener-bener polos, ada yang masokis, ada yang gentle, dan tentu ada yang aho. Yang jelas, kalau dari segi karakter, menurut saya anime ini punya nggak nol banget, lah~

Suara

Well, saya kurang begitu paham kalau soal suara. Baik itu soundtracknya, pengisi suaranya, atau sound effectsnya, jujur saya kurang ngerti. Yang jelas, selama ada suara-suara moe, saya suka. Huhu.

Moral Lessons

Beberapa pelajaran hidup yang saya dapatkan dari anime ini adalah:
  1. Kadang, ada orang sudah ‘muak’ dengan lingkungannya, sehingga dia membuat dunianya sendiri. Sudah terlalu jenuh. Maka, tugas kita sebagai orang yang kenal adalah mengulurkan tangan, merangkul dan memberi kehangatan. Semua orang terlahir bahagia, dan harusnya hidup berbahagia hingga mati dengan senyuman. Maka, jangan biarkan ada tangis (kalau mungkin) di wajah orang-orang terdekat kita.
  2. Carilah satu teman yang bisa booster mood kita agar tetap positif atau agar kembali positif. Teman yang, sorry to say, bodoh kadang lebih menenangkan ketimbang yang jenius. Jadi tak apa kalau kita terkadang bertingkah bodoh, yang penting otak kita berisi.
  3. Hidup itu ada bahagia dan sedih dan itu tidak bisa dipilih. Kita semua pasti mengalami keduanya. Yang perlu kita lakukan adalah keep move on and enjoy the story. Asik.
Moral lessons itu sebenarnya bisa beda-beda karena itu semua tergantung perspektif kita, suasana hati kita, dan juga apa yang ada di kepala kita. Jadi, mungkin apa yang saya dapat dari satu tontonan bisa berbeda dengan orang lain.

Pertanyaan

Saya punya beberapa pertanyaan sebenarnya untuk anime ini.
  • D episode 23 itu kan si Kud-chan ketangkap, lalu dia diikat dan di'bugili'. Sepele sih, dia diapa-apain lagi nggak, sih? Masa ada anak cewek, cantik, blasteran, setengah telanjang, terikat tak berdaya, nggak diapa-apain? Masa siiih? Atau itu ada di versi Doujin-nya? Hmm…
  • Jadi siapa sebenernya yang nulis surat di ekor kucing?
  • Kenapa Riki-kun jadi jarang narkolepsi setelah beberapa episode?
  • Siapa sebenarnya Kyousuke-kun? Kenapa dia punya vision juga?
Itu adalah beberapa pertanyaan yang masih terngiang-ngiang di kepala saya. Untungnya, anime ini punya season 2 atau lanjutan yang belum saya tonton. Semoga semua pertanyaan saya bisa terjawab di season selanjutnya.

Terkahir, menurut saya anime ini adalah salah satu anime yang sangat recommended untuk di tonton bareng adik, teman, pacar, mantan pacar, mantannya pacar, atau bahkan kalau bisa bareng keluarga. The point is, don’t miss it.

Itulah review saya tentang anime Little Busters! ini. Saya harap ulasan saya ini bisa jadi referensi buat kawan (meski agak aneh sih kalau tulisan ini dijadikan referensi). Jangan lupa untuk meninggalkan sepatah dua patah kata di kolom komentar. Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Tanah Air
[youtube src="jU8m_fh5DRg" /]
“TANAH AIR”
Tanah air ku tidak ku lupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang ku cintai
Engkau ku hargai
Walaupun banyak negeri ku jalani
Yang mahsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku merasa senang
Tanahku tak ku lupakan
Engkau ku banggakan
Halo hai, sob~! Belakangan ini saya sedang senang-senangnya kembali memutar lagu-lagu nasional Indonesia.

Guna mengobati rindu ini, saya pun membuka YouTube dan mulai mencari vidio lagu-lagu nasional seperti Garuda Pancasila, Indonesia Raya, Indonesia Pusaka, dan masih banyak lagu lainnya.

Setelah berselancar cukup lama, saya pun sampai di suatu vidio yang menurut saya menarik. Music video berjudul Lagu Nasional - Tanah Air ( cover ) - EDM x Gamelan by Alffy Rev ft Bianca Jodie & Gasita Karawitan adalah sebuah karya yang menurut saya sangat patut diapresiasi.

Vidio tersebut merupakan kreasi lagu nasional Tanah Air yang dibuat dalam versi EDM.

Hal yang langsung membuat saya menonton vidio ini sampai akhir adalah hadirnya suara Bung Karno yang sangat karismatik dan khas di awal vidio.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah hadirnya permainan gamelan yang cukup intens dan lively dipadukan dengan dentuman EDM yang delisioso cappuccino italio numero uno.

Tapi dari semua hal menarik yang terdapat di dalam vidio tersebut, lirik lagu orisinil dari lagu inilah yang saaaangat berkesan bagi saya. Bagaimana tidak? Bait kedua dari lagu ini berhasil menguatkan tekad saya untuk merantau ke negeri orang (luar negeri), untuk benar-benar memahami arti rindu terhadap ibu pertiwi. Nggak percaya? Coba dihayati bait:
Walaupun banyak negeri ku jalani
Yang mahsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku merasa senang
Bait tersebut selalu berhasil membuat saya ikut bernyanyi meski dengan suara yang pas-pasan. Membuat saya bisa berimajinasi tentang realisasi pepatah tua, “Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung,”

Saya belum pernah keluar negeri, tapi lagu ini bisa membuat saya seperti berada di negeri nan jauh disana, membuat saya rindu akan harum ranumnya tanah Indonesia.

Sungguh sebuah karya tulus seorang seniman nasionalis. Setiap baitnya sarat makna. Setiap katanya penuh rasa.

Overall, saya sangat appreciate para content creator yang mau mengkreasikan lagu-lagu nasional seperti lagu Tanah Air ini. Secara tidak langsung, konten seperti ini bisa membuat para pemuda tetap senang terhadap lagu-lagu nasional, bangga untuk menyanyikannya, tak sungkan untuk mengenang dan mempelajarinya, yang mungkin untuk anak muda jaman sekarang terkesan kuno dan lawas.

Saya berharap karya-karya seperti tidak pernah ada habisnya. Dan tentu saya berharap karya-karya seperti ini bukan hanya bisa menghibur kita, tapi juga meningkatkan semangat nasionalisme kita dan kecintaan kita terhadap lagu-lagu nasional.

Aamiin allahuma aamiin ya rabbal’alamin.

Itu saja untuk kali ini. Semoga ada hal baik yang bisa diambil dari tulisan ini. Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya. Oh iya, terlepas dari semua itu, ini hanyalah argumen pribadi saya. Bagaimana menurut kalian?

Sering Buka Puasa di Luar? Yuk, Ikutin Tips Ini Supaya Lebih Hemat!
Tulisan ini merupakan kiriman dari sahabat Annisa Chaniago. Mau tau lebih jauh tentang penulis? Boleh di cek Instagram-nya di @annisachaniago
Halo hai, sob~! Di bulan Ramadhan ini, banyak sekali alasan yang menyebabkan kita berbuka puasa di luar, misalnya jalanan yang macet atau bertemu dengan teman. Dan, kita tidak bisa menyangkal bahwa hal tersebut membuat kantong kita menipis. Nah, supaya lebih hemat kamu bisa banget mengikuti tips di bawah ini. Yuk, langsung disimak!

1. Makan dan ‘dibayar’

Kamu udah tau belum kalau sekarang kamu bisa makan dan dibayar? Dengan aplikasi Cashbac, kamu bisa mendapakan cash back berupa uang virtual yang akan dimasukkan ke dalam akun kamu.

Nah, cara mendapatkan cash backnya gimana, tuh? Kamu cuma tinggal download aplikasi Cashbac dan daftarin kartu debit atau kredit yang berlogo Visa atau MasterCard. Setelah berhasil, kamu akan langsung mendapatkan saldo 50 ribu secara instan. Supaya bisa dapat cash back, kamu tinggal melakukan transaksi dan saldo akan langsung masuk ke dalam akun kamu tergantung dari persentase masing-masing restoran.

Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa langsung download aplikasi ini di Google Play atau App Store. Udah buka puasa dengan makan enak, dibayar pula. Acara bukber jadi makin seru, deh.

2. Pakai voucher

Siapa bilang voucher makan susah banget buat didapatkan? Kamu bisa dapat kupon makan dengan mudah. Caranya, kamu tinggal mengikuti kuis yang diadakan oleh beberapa restoran atau perusahaan lain.

Biasanya hadiah yang diberikan untuk pemenang adalah voucher berupa diskon makan di restoran tertentu, gratis minuman, bahkan bisa gratis makan untuk dua orang.

Untuk mengetahui voucher yang sedang dibagikan, kamu harus rajin mengecek akun media sosial restoran favorit kamu. Jika kamu menemukan kuis yang berhadiah voucher, kamu tidak boleh melewatkannya karena ini adalah salah satu cara yang ampuh supaya kamu tidak terlalu boros saat buka puasa di restoran.

3. Makan di restoran yang menyediakan gratisan

Di bulan puasa, beberapa restoran menyediakan makanan dan minuman pembuka puasa gratis untuk pelanggannya. Hal ini untuk menarik perhatian target pasar mereka supaya memiliki banyak pengunjung.

Nah, kalau kamu ingin berhemat, tips yang satu ini juga tidak kalah ampuh, karena itu berarti kamu tidak perlu membeli makanan pembuka dan minuman lagi. Artinya kamu hanya perlu membeli makanan utama saja.

Itulah beberapa tips yang bisa kamu coba jika kamu ingin berbuka puasa di luar. Supaya lebih hemat, kamu bisa menggunakan aplikasi Cashbac, memakai voucher makan, dan mengandalkan gratisan di restoran. Selamat mencoba dan selamat berpuasa!

Surabaya Berduka, Yerusalem Menangis, Amerika Tertawa
Baru kemarin rasanya saya menuliskan harapan saya agar tindak radikalisme dan terorisme ini bisa berakhir. Tiba-tiba tadi pagi, saya membaca kabar berita bahwa telah terjadi lagi aksi terorisme.

Nggak tanggung-tanggung yang di serang markas polisi pula.

Jujur, udah nggak ngerti lagi saya sama carut-marutnya negeri ini. Seolah-olah kata ‘kemanusiaan’ dan ‘perdamaian’ tidak lagi memiliki nilai dan arti. Yang saya takutkan bukan saya akan menjadi salah satu korbannya, tapi saya lebih takut Indonesia berakhir seperti negeri-negeri di Timur Tengah sana. Porak poranda karena perang yang entah kapan berakhirnya.

Yang bikin saya terlebih sedih lagi adalah kelalaian saya yang mudah terprovokasi oleh media.

So sad~

Mungkin kalian tahu bahwa beberapa waktu ke belakang, umat muslim di Indonesia sempat bersatu dan beraksi di Monumen Nasional, Jakarta untuk menyuarakan #SavePalestine dan #SaveAlAqsha yang kemudian kita kenal dengan Peristiwa 511.

Tapi ketika tragedi berdarah-beruntun terjadi di Indonesia, semangat kita untuk menyuarakan selamatkan Al Aqsha seakan hilang dikubur media. Kalau kalian kurang ngikutin, tragedinya dimulai dari penyerangan ke Mako Brimob, lalu bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, dan yang terakhir adalah bom mobil di Polrestabes Surabaya. Ketiga kasus tersebut berhasil membuat kita lupa bahwa Amerika Serikat sedang memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem.

Dan itu sudah selesai.

Sekarang, kedutaan besar Amerika Serikat di Yerusalem sudah resmi. Karenanya, Donald Trump disambut layaknya pahlawan di Yerusalem. Bahkan di tembok ratapan pun dituliskan kalimat, Terima Kasih Donald Trump, seakan-akan ia sudah menyelamatkan umat dari kehancuran.

Sedih dan kecewa rasanya ketika menyadari bahwa saya sempat ‘menjadi pengikut setia media’ hingga saya lupa bahwa aksi terorisme ini bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi oleh umat muslim.

Saya tidak bilang kalau kisah tragis ini hanyalah sebuah pengalihan isu dari isu kemanusiaan yang lebih besar. Ini penting dan serius, tapi bukan satu-satunya. Ada Al-Aqsha yang sedikit demi sedikit mulai diambil alih dari pemilik aslinya, orang-orang Palestina.

Setelah Kedutaan Besar Amerika resmi di Amerika Serikat. Masalah baru pun muncul, yaitu ajakan Perdana Menteri Israel kepada negara-negara lain untuk sama-sama memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem.

Memangnya apa yang salah dengan pindahnya kedutaan besar negara-negara ke Yerusalem? Tidak ada yang salah. Hanya ada satu hal yang saya harap tidak terjadi, hilangnya hak saudara kita di Palestina untuk tinggal di tanah mereka sendiri.

Menurut saya, langkah-langkah seperti ini dilakukan untuk mendapatkan satu hal, pengakuan. Ketika Israel mengizinkan negara-negara memindahkan kedutaannya ke Yerusalem, kesannya seperti tanah Yerusalem adalah milik Israel. Dan pada akhirnya, negara-negara di seluruh dunia akan mengakuinya.

Saya yakin, kita semua tahu bahwa suatu negara dianggap sah sebagai negara ketika diakui secara de facto dan de jure, ingat? Dan langkah yang dilakukan ini adalah sebagai modal Israel memenuhi de jure yang diperlukan.

Semoga apa yang saya bicarakan diatas hanyalah OMONG KOSONG BELAKA. Semoga itu semua benar untuk terjaganya perdamaian seperti yang diucapkan oleh Netanyahu.

Apapun yang terjadi di negeri ini, di dunia ini, di kehidupan ini, semoga saya bisa melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Atau, saya harap ada sosok yang bisa memperbaiki kerusakan yang sedang terjadi.

Dan saya harap itu bisa terjadi sebelum ‘janji yang pasti’ terjadi, sebelum ‘akhir untuk sebuah awal’ terjadi, sebelum munculnya apa yang saya sering baca dan dengar sebagai Dajjal dan Mahdi.

Aamiin Allahuma Aamiin Ya Rabbal’alamin.

Saya rasa tidak ada faedah dari tulisan saya kali ini, namun terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Halo hai, sob~! Pagi hari ini telah terjadi sebuah serangan kemanusiaan dari sekelompok orang ‘gila’ terhadap tiga gereja yang ada di Surabaya. Sampai tulisan ini dibuat, saya dengar korban meninggal dunia terhitung sampai 11 orang dan korban luka sampai 50 lebih. Untuk informasi seputar perkembangan kasus ini, silahkan ikuti di situs-situs berita atau di tipi-tipi kesayangan anda.

Yang ingin saya bahas kali ini bukan tentang kronologi kejadian bom bunuh dirinya, tapi untuk mengklarifikasi dan memperbaiki stigma masyarakat yang masih beranggapan bahwa teroris itu islam.

Memang kasus radikalisme yang mengatasnamakan islam bukanlah hal baru. Tapi stigma salah yang sudah ada sejak dulu ini masih tertanam di benak masyarakat, khususnya yang ada di Barat sana.

Oleh karena itu, mari kita lihat kembali tragedi skala dunia yang dikenal dengan 911 atau Tragedi 11 September dimana ada sekelompok teroris yang menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center.

Sebelum kejadian itu, nama islam dan umat muslim masih bisa dibilang ‘baik-baik saja’ di mata dunia. Tiba-tiba, ketika tragedi 911 terjadi, nama Osama bin Laden dan Al-Qaeda naik daun.

Lalu kemudian disangkutpautkan-lah dua subjek tersebut pada islam dan muslim secara general. Saya bukan ahli sejarah atau kriminologi, tapi saya tahu pasti bahwa penyamarataan tersebut adalah sebuah ketidakadilan.

Saya tidak tahu apakah benar tragedi itu diinisiasi oleh bin Laden atau tidak. Saya juga tidak tahu apakah benar Al Qaeda merupakan dalang di balik tragedi tersebut atau bukan.

Tapi kalaupun iya, memang semua umat muslim campur tangan di dalamnya?

KAN NGGAK~

Dari sepenggal kisah flashback masa lalu tersebut, semoga kita bisa sepakat bahwa tidak semua muslim itu radikal, bahkan tidak ada muslim yang radikal. Kalau ada, bisa dipastikan mereka BUKAN MUSLIM.

Saya bukan ahli agama, tapi saya pernah diajarkan oleh guru agama saya bahwa kita tidak boleh menyakiti siapapun tanpa alasan yang jelas, tidak boleh menghakimi siapapun tanpa alasan yang jelas, tak boleh membunuh siapapun tanpa alasan yang jelas, karena itu semua bukan hak kita dan bukan kewajiban kita. Itu haknya Allah dan kewajibanNya.

Itu adalah pelajaran dari agama saya yang saya yakin agama lain pun mengajarkan hal yang kurang lebih sama.

Saya juga pernah dengar istilah ini, “Tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan,”

Terorisme adalah kejahatan, jadi orang-orang yang melakukannya bukanlah orang yang beragama atau mungkin orang-orang yang salah mempelajari agamanya.

Jadi, semoga kita semua bisa menghilangkan prasangka buruk bahwa setiap aksi terorisme adalah salahnya ISLAM. Meskipun pelakunya ber-KTP islam, bukan berarti dia seorang muslim.

Terkhusus untuk mereka yang ditinggalkan orang-orang tercintanya akibat tragedi berdarah ini, saya mengucapkan turut berbela sungkawa dan berduka cita atas kepergian sanak saudaranya.

Dan khusus untuk para pelaku tindak radikalisme yang 'terhormat' dan 'ternama' dimanapun anda berada, semoga diberi hidayah, semoga dapat sadar, semoga sempat bertaubat. Apapun alasan anda, semoga ini bisa menjadi yang terakhir. Semoga setelah tragedi Surabaya ini, tidak ada lagi tragedi-tragedi radikalisme di Indonesia, meskipun mungkin mustahil. And last but not the least,
BOM BUNUH DIRI BUKAN JIHAD~!

Semoga tulisan ini bermanfaat. Terima kasih telah berkenan membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Terkadang saya kecewa terhadap diri saya sendiri. Setelah memasuki usia 20-an, hasrat saya terhadap lawan jenis semakin tidak karuan.

Dulu, duuuulu sekali, setiap kali saya membuka media sosial, tak pernah sedikit pun terlintas di kepala saya untuk kepo-in seseorang, apalagi perempuan.

Sekarang, setiap kali saya buka Line, WhatsApp, Facebook atau Instagram dan saya melihat ada akun dengan foto lawan jenis yang, sorry to say, ‘menarik’, tangan saya secara sadar atau tidak sadar langsung membuka profil akun pemilik foto tersebut.

Saya jadi makhluk ‘kepo’.

Dan saya sangat yakin kalau apa yang sering saya lakukan belakangan ini menuntun ke jalan yang sering ustadz-ustadz sebut dengan maksiat. Itu adalah yang paling saya takutkan. Pernah sekali saya mendengar ayat Al-Qur’an yang artinya seperti ini:
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 30-31)

Ingin sekali diri ini mengamalkan perintah Allah yang satu ini. Menahan pandangan dan ‘memelihara kemaluan’. Tapi, mungkin karena memang sudah waktunya saya mengenal hal-hal seputar itu, setiap kali mata melihat, tubuh langsung reflex fokus terhadap hal itu.

Ketika sedang asyik-asyiknya scroll timeline, tiba-tiba tangan berhenti di satu posting lawan jenis yang menarik perhatian. Padahal nggak ada niatan untuk berhenti disitu.

Pengen rasanya bilang, “Jangan posting foto-fotomu di media sosial ya,” Tapi apalah daya hati ini masih belum cukup kuat menerima kritikan, “Lah emang elu siapa? Ustadz? Kyai? Aktivis FPI?

Belum juga hati ini siap menerima kenyataan bahwa saya masih ‘doyan’ liat foto-foto lawan jenis di media sosial. Tak ada hukum yang menjadikan kalian (baca: wanita) kriminil kalau mengunggah foto kalian di internet, tapi jelas ada hukum bila kami (baca: pria) berlaku anonoh kepada kalian.

Maka, bantulah kami, khususnya saya, untuk bisa mengamalkan salah satu perintah Ilahi, untuk menjaga pandangan kami dari melihat yang tidak perlu, melihat maksiat.

Tak dipungkiri kalau horny-nya lelaki ketika melihat lawan jenisnya bukan menjadi tanggung jawab perempuan. Itu sepenuhnya kesalahan para lelaki. Tapi bukan berarti lelaki sepenuhnya salah. Ada hukum sebab-akibat yang terjadi.

Persetan dengan title ustadz, kyai, ulama, atau petinggi agama lainnya. Ketika di hadapkan dengan PE-REM-PU-AN, maka normalnya birahi mereka akan memuncak. Itu fitrah.

Jadi tolonglah kami, kalau belum berhijab, maka berhijablah. Kalau sudah berhijab tapi masih suka selfie, tolonglah jadikan hasil selfie-nya sebagai kenangan, bukan diunggah ke media sosial untuk dijadikan tontonan.

Semoga tulisan ini sampai kepada yang dituju. Terima kasih telah bersedia membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Halo hai, sob~! Pernah punya pikiran kaya gini nggak? “Kerja di kantor kayanya enak, nggak kepanasan, nggak kehujanan, nggak usah khawatir soal penghasilan,

Memang kalau kita kerja di kantor, kita terhindar dari panas terik matahari dan dinginnya hujan. Kita juga lebih tenang karena tahu setiap bulan uang bulanan pasti datang. Tapi perlu kawan ketahui, kerja di kantor itu punya masalah dan kendalanya tersendiri.

Malah, mungkin bisa dibilang kalau kerja di kantor itu lebih menantang dan menguras energi dan pikiran. Bayangkan saja soal stagnancy dimana kita harus duduk di kursi selama berjam-jam melakukan hal yang itu-itu saja selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Apa nggak keram tuh otot pantat?

Saya pribadi pernah bekerja di kantor, dan jujur saja saya sudah sampai di tahap itu. Tahap dimana saya merasa jenuh di kantor. Ada beberapa hal yang menyebabkan kejenuhan itu datang, dan ada beberapa cara agar kita bisa mengusir atau bahkan mencegah kejenuhan itu mampir. Bagaimana? Berikut akan saja jelaskan beberapa tips tetap produktif selama di kantor ala Mazdesu.

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan bahwa produktivitas di kantor sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal (personal) maupun faktor eksternal (perusahaan).

Dari segi personal, berikut adalah hal-hal yang bisa kita coba untuk menciptakan suasana yang produktif dan kondusif.
Bangun Pola Pikir Positif Dalam Bekerja
Dalam melakukan segala sesuatu, tentunya kita harus memulainya dengan positif, karena itulah ada pepatah tua yang mengatakan, “Sesuatu yang baik akan berakhir baik.” Dalam Islam saya pernah mendengar, innamal ‘amalu binniyat, semua berawal dari niat.

Kalau kita mengawali kerja dengan sikap pesimis, sedih, gundah gulana, yakin pekerjaan yang kita kerjakan, tugas yang kita jalani, semua akan terasa berat dan akhirnya hasilnya pun tidak maksimal. Oleh karena itu, ketika kita bekerja, haruslah kita mempunyai pola pikir positif atau mungkin kita sering menyebutnya dengan istilah OP-TI-MIS.

Tentukan Tujuan dalam Bekerja
Banyak orang yang bekerja tapi pada akhirnya tidak produktif atau sekedar hadir dan menghamburkan usia di tempat kerja karena tidak punya tujuan jelas dalam bekerja. Termasuk saya pun pernah seperti itu. Oleh karena itu, akan sangat baik kalau jauh sebelum kita bekerja kita cari tahu dulu tujuan kita bekerja di tempat itu.

Tujuan itu bisa bermacam-macam. Bisa dilihat dari jenjang karir, gaji, ilmu yang didapat, atau alasan yang lebih sosialis seperti pekerjaan tersebut bisa membuat saya lebih sering berkontribusi pada masyarakat, membuat saya lebih dekat dengan yang Maha Kuasa, atau alasan-alasan lainnya yang mana itu menjadi hak prerogratif kawan.

Kalau kawan baru membaca tulisan saya ini ketika kawan sudah bekerja, one thing that I want to say to you is, nggak ada kata terlambat. Coba kawan cari tahu sekarang apa tujuan kawan bekerja di tempat kawan sekarang, apa yang ingin kawan lakukan dan apa yang kawan harapkan dari tempat kerja tersebut? Kalau pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak bisa terjawab, maka pilihannya dua, keluar dan cari tempat kerja yang bisa membuat kawan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, atau kalau kawan ragu untuk keluar dari tempat kawan bekerja, yakinkan diri kawan untuk menemukan satu alasan anda ingin bekerja.

Tak perlu alasan yang begitu jauh dan luar biasa. Kalau kawan sudah berkeluarga, jadikan mereka sebagai alasan kawan bersemangat bekerja. Kalau belum, buat cita-cita kawan sebagai alasan kawan bekerja dengan baik. Saya sendiri membuat cita-cita saya untuk punya tempat makan sendiri sebagai tujuan saya. Saya katakan pada diri saya sendiri, “Saya mau memasak untuk orang lain, maka dari itu saya perlu kerja, nabung uang untuk modal meraih mimpi saya,”

And it works! Saya sanggup menjalani setiap hari kerja saya dengan maksimal karena saya punya tujuan di akhir, yaitu tercapainya mimpi/ cita-cita saya. So, make sure that you have a purpose to work!

Jalin Komunikasi yang Intens
Percaya atau nggak kalau komunikasi itu punya peran yang saaaaangat besar dalam membentuk suasana kerja yang kondusif dan produktif. Memang kadang canggung untuk memulai sebuah perbincangan, tapi orang lain juga mungkin merasakan hal yang sama dan kalau dua-duanya merasakan hal yang sama tanpa ada yang berani bertindak, maka nggak akan pernah terjadi yang namanya komunikasi di tempat kerja.

Itu masalah ke rekan kerja yang notabene setingkat, gimana kalau sama atasan? Mungkin sekarang ini masih ada atasan yang masih ‘gengsi’ untuk memulai pembicaraan dengan bawahannya dan itu beragam sekali alasannya, wibawa-lah, ini-lah, itu-lah, apa aja alasannya. Oleh karena itu, kita-lah (baca: pegawai) yang harus memulai.

Memang rasanya agak gimana gitu kalau mau ngobrol sama atasan, maka dari itu perlu momen yang pas juga. Saya pertama kali ngobrol dengan Kepala Redaksi saya, Pak Iman, dengan menanyakan job desk saya.

Buka dulu kancing kemejanya, baru buka kemejanya. Sama seperti itu menurut saya teorinya. Mulailah dari hal-hal kecil, dan percaya-lah kalau sebenarnya bos kita itu senang ngobrol dengan kita. Balik lagi ke yang saya bilang tadi, optimis aja dulu.

Kalau komunikasi dengan atasan dan rekan kerja sudah terjalin dengan baik, yakin deh jenuh dalam bekerja itu akan sulit mampir dan produktivitas kita dalam bekerja juga akan meningkat berkali-kali lipat.

Itulah beberapa hal yang bisa kita lakukan dilihat dari sudut pandang personal atau pegawai. Bagaimana kalau dari segi perusahaan? Dari sudut pandang perusahaan, menurut saya, ada beberapa hal yang harus di pertimbangkan agar dapat tecipta suasana kerja yang kondusif di kantor.

Jamin Kenyamanan Pegawai Selama Bekerja di Kantor
Ada beberapa hal yang kadang perusahaan itu missed ketika mempekerjakan seseorang. Kasarnya, kalau saya dengar obrolan di warkop, problema yang sering dihadapi pegawai adalah “Gaji nggak seberapa, kerjanya buanyaknya, waktunya gilaaaaa, fasilitas nggak ada,

Nah, dari cuitan masyarakat warung kopi tersebut, saya tarik kesimpulan bahwa kenyamanan seorang pegawai baik itu kantor, pabrik, atau pekerja lapangan berhubungan erat dengan:
  • Gaji yang cukup
  • Waktu kerja yang masuk akal
  • Fasilitas yang menunjang
Oleh karena itu, akan lebih baik bila perusahaan dapat mempertimbangkan hal tersebut. Gaji yang mencukupi bagi pegawai, pekerjaan yang sesuai dan tidak terlalu memberatkan sehingga dapat menyita waktu pribadi pegawai bersama sanak keluarga, serta fasilitas yang mendukung pegawai melakukan pekerjaan-pekerjaannya.

Saya ketika bekerja di kantor sebagai penulis artikel website sempat terkendala karena sulitnya akses internet. Hal tersebut membuat saya merasa jengkel sendiri karena ketidakprodutifan saya meskipun sebenarnya itu bukan kesalahan saya. Oleh karena itu, please, kepada semua pemilik usaha, pekerjakan dan fasilitasi seorang pekerja secara manusiawi.

Bangun suasana kerja yang menyenangkan
Ada banyak hal yang bisa perusahaan lakukan untuk membangun suasana kerja yang menyenangkan.

Beberapa perusahaan menerapkan sistem kompetisi antar pegawai untuk meningkatkan semangat dan produktivitas pegawai. Kompetisi seperti pegawai terbaik atau pegawai teladan bulanan hingga kini masih bisa memancing semangat bekerja pegawai.

Tentu di setiap kompetisi haruslah ada hadiah yang disediakan, namun sebenarnya tak perlu terlalu mewah. Bahkan hadiah makan siang gratis selama seminggu pun bisa dijadikan hadiahnya yang mana tak sedikit orang akan berjuang untuk mendapatkan hadiah tersebut.

Hal lain untuk membangun suasana menyenangkan di kantor adalah dengan menanamkan rasa memiliki kepada setiap pegawai. Bagaimana caranya? Salah satu cara paling sederhana yang mungkin bisa dicoba adalah dengan memberi sebuah simbolisasi keseragaman, bisa itu dari baju kantor, name tag, pin, atau apapun yang semua pegawai di kantor tersebut memakainya.

Memang terdengar sepele, tapi ketika semua orang mempunyai simbol yang sama, orang cenderung lebih mudah berinteraksi. Saya mengalaminya ketika sedang melaksanakan Kerja Praktik (KP) di Diskominfo Jabar.

Ketika itu saya dan rekan-rekan KP saya yang lain diberi name tag masing-masing. Entah kenapa, semangat saya bekerja bisa muncul setiap kali saya mengenakan name tag tersebut. Seperti timbul rasa bangga ketika mengenakannya. Saya pun merasa lebih mudah untuk berbincang bersama rekan KP saya yang notabene berasal dari universitas yang berbeda.

Tapi dari itu semua, ada satu hal yang sangat efektif untuk membangun suasana menyenangkan di kantor yaitu dengan memberikan apresiasi atas kinerja pegawai, dan seharusnya hal ini dilakukan oleh para petinggi perusahaan, baik itu CEO-nya, Manager-nya, atau Kepala Redaksi-nya, atau siapapun itu dan tentunya apresiasi yang wajar sesuai dengan realitas di lapangan.

Kadang, saya itu jadi jengkel dalam mengerjakan sesuatu ketika orang yang mempekerjakan saya (membayar/ voluntarily) meminta ini-itu tapi lupa dengan apresiasi. Bukan upah yang saya maksud, tapi sekedar ucapan terima kasih yang tulus.

Karena mau bagaimanapun, secara sadar maupun tidak sadar, kita punya kemampuan untuk merasakan ketulusan ucapan seseorang. Dan ketika ucapan terima kasih yang tulus itu sampai ke kita, itu kaya me-recharge semua energi yang sudah dikuras habis. Seriusan!

Beri Kesempatan Mengembangkan Keahlian
Beberapa orang memilih untuk bekerja karena mereka masih ingin menggali dan mengembangkan potensi diri mereka. Jadi, sebisa mungkin pihak perusahaan memberikan kesempatan tersebut dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan khusus.

Saya ambil contoh diri saya sendiri, ketika saya bekerja di kantor, kantor saya mengadakan seminar pra-nikah yang mana saat itu menjadi salah satu ilmu yang sangat saya butuhkan. Ketika kantor menawarkan saya untuk ikut, saya menyetujuinya.

Hasrat saya terpenuhi. Setelah itu saya menjadi pegawai yang lebih antusias di kantor, mungkin karena satu dari sekian banyak hasrat saya terpenuhi oleh kantor.

Kalaupun tidak memungkinkan untuk memberikan pelatihan karena jadwal yang ketat, berikan kesempatan pada pegawai untuk memegang tanggung jawab yang lebih besar dari job desk-nya. Coba terima ide-ide yang diutarakan oleh pegawai, lalu izinkan dia untuk mengimplementasikan idenya tersebut.

Meski terkadang khawatir, seorang yang diberi tanggung jawab dan memang ingin membuktikan diri akan melakukan yang terbaik untuk membayar kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Alhasil, sang pegawai akan merasa dihargai dan semakin semangat dan loyal terhadap pekerjaan. Di sisi lain, bila ide itu benar-benar selesai, itu bisa memberi dampak positif kepada perusahaan, iya kan?

Bangun Ruang Kantor yang Nyaman
Satu hal yang juga tidak kalah penting dalam membangun suasana kantor yang kondusif dan produktif adalah tata letak dan tata hias kantor. Kantor yang tidak nyaman seringkali membuat seorang tidak produktif. Oleh karena itu, perusahaan yang baik haruslah mempunyai kantor yang cozy juga.

Menurut saya pribadi, kriteria kantor yang baik setidaknya harus:
  • memiliki warna cerah
  • memiliki sirkulasi udara bersih yang baik
  • sumber pencahayaan alami dari matahari
  • terdapat lapang atau view yang bebas
Yang saya maksud dengan warna yang cerah bukan berarti kantor yang bertembok putih, tapi lebih ke warna-warna dapat mempengaruhi psikologi seperti warna biru, hijau, kuning atau ungu. Untuk lebih lengkapnya tentang warna dan psikologi mungkin akan saya bahas secara lebih detil lagi di artikel lainnya.

Eksistensi ventilasi udara yang baik agar dapat menghasilkan sirkulasi udara bersih alami juga tak kalah penting. Banyak kantor yang mengandalkan udara segar dari pendingin udara seperti AC atau kipas angin yang mana itu kurang bagus untuk produktivitas. Saya nggak akan bahas dari segi kesehatan, tapi saya pribadi lebih prefer kantor yang mengandalkan angin alami ketimbang angin buatan.

Cahaya matahari perlu? Banget. Mari kita berpikir sejenak, pekerja kantoran biasanya stay di kantor selama kurang lebih 6-8 jam sehari. Kalau selama itu kita hanya terpapar cahaya lampu saja, kasihan tubuh kita. Kulit kita juga butuh dibelai oleh cahaya hangat matahari yang mengandung Vitamin D.

Dan terakhir adalah view atau panorama atau pemandangan yang luas dan bebas. Saya pernah dengar kalau orang yang bekerja menghadap ke tembok itu bisa terhambat kreativitas dan produktivitasnya. I don’t know how it works, but it do works on me. Ketika saya bekerja menghadap dinding, entah kenapa saya nggak bisa mikir. Makanya saya minta posisi kantor saya di-rearrange jadi melingkar seperti meja bundar.

Kalau membahas tentang tata ruang kantor dan tata hias kantor yang tokcer, mungkin perlu saya jabarin sepanjang mata memandang. Nggak ada akhirnya. Untuk semua pengusaha yang ingin memiliki kantor tapi nggak ngerti teorinya gimana, kalian nggak perlu khawatir. Sekarang sudah banyak perusahaan khusus yang fokus menyediakan jasa layanan penyewaan kantor atau ruangan untuk meeting yang sesuai dengan keinginan kita.

Salah satu yang mungkin sangat recommended adalah Jasa Sewa Ruang Kantor dan Ruang Meeting yang disediakan oleh Xwork. XWork adalah sebuah perusahaan yang begerak di bidang penyewaan ruang meeting, ruang kantor bahkan training room. Pokoknya, kalau perlu tempat yang nyaman untuk bisnis, boleh coba gunakan jasa dari XWork ini.

Ruangan yang disediakan oleh XWork ini menurut saya sangat luar biasa cozy. Nggak percaya? Ini adalah salah satu kantor yang disediakan oleh XWork yang menurut saya idaman banget buat kerja.


Keren, kan? Kalau mau tahu lebih jauh tentang macem-macem kantor atau jasa yang disediakan oleh XWork, bisa langsung cek di Instagram-nya atau ke website resminya aja. Atau kalau udah nggak nahan mau tau lebih jauh tentang XWork, coba aja kontak Customer Service-nya.

Nah, mungkin yang jadi masalahnya adalah kenapa harus XWork? Sebelum saya jelaskan secara lebih gamblang, mungkin gambar berikut bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Untuk pelayanan dan fasilitas kantor yang sebegitu wah, harga yang ditawarkan oleh XWork menurut saya tidaklah berlebihan. Well, semua orang punya cara pandang. Tapi, kalau memang tujuannya untuk memberi kenyamanan bekerja, kenapa nggak?

Overall, untuk meningkatkan produktivitas kerja di kantor, semua aspek sangat berpengaruh, mulai dari tempat, pihak perusahaan, bahkan sampai ke pribadi masing-masing pegawai. Masalah pegawai dan perusahaan mungkin erat kaitannya dengan mental dan kepribadian sehingga itu tidak bisa dipaksakan, tapi kalau masalah pemilihan tempat kerja (ruang kantor) itu bisa diatur. Dan disitu, XWork mungkin bisa menjadi salah satu solusi terbaik dan termudah bagi anda. Entahlah, anda berani coba?

Semoga tulisan ini bisa sedikitnya memberi angin segar untuk para pegawai kantor yang mulai jenuh dengan suasana kantor yang itu-itu saja dan inspirasi bagi para petinggi kantor untuk dapat membangun semangat baru untuk seluruh pegawai kantor. Let's #BeMoreProductive.

Terima kasih sudah bersedia membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Halo hai, sob~! Pernah nggak kalian ikutan lomba debat mau itu debat Bahasa Indonesia, debat Bahasa Inggris, debat Bahasa Arab, atau mungkin debat bahasa daerah? Kalau kalian belum pernah, kenapa nggak nyoba? Untuk kalian yang pernah, apa sih yang kalian rasain? Dan apa yang kalian rasa kalian dapatkan dari ikutan lomba debat itu?

Nah, berhubung saya pernah beberapa kali ikutan lomba debat, ada sedikit banyak kesan tentang lomba debat yang saya dapatkan dan kali ini saya ingin sedikit sharing tentang hal itu.

Saya nggak mau terlalu banyak berargumen tentang apa itu debat karena saya yakin kalian juga sudah tahu betul tentang seperti apa debat itu. Tapi, supaya kita sepemikiran, saya kasih definisi tentang debat terlebih dahulu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), debat /de·bat/ /débat/ adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing: Ada juga yang sering kita sebut debat kusir, yaitu debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal dan faktual.

Yang ingin saya bahas lebih kepada lomba debat, yaitu sebuah ajang beradu pendapat yang mana terdapat satu pihak yang diunggulkan/ dimenangkan atas pihak yang lain dinilai dari segi argumentasinya.

Sekarang sering kita dengar lomba-lomba debat untuk pelajar, mulai dari pelajar SMP hingga mahasiswa. Memang sebegitu kerennya ya lomba debat itu? Apa sih manfaatnya ikut lomba debat? Bukannya berdebat itu tidak baik?

Oke, saya ingin coba menjawab pertanyaan seperti itu.

Saya sangat setuju kalau debat itu tidak baik karena ada cara yang lebih baik dan halus (nggak pake nge-gas) yaitu negosiasi atau musyawarah untuk mufakat. Meski begitu, saya tidak memungkiri bahwa ikut lomba debat itu memberi banyak manfaat dan membawa pengaruh positif bagi si peserta (pelajar ataupun mahasiswa). Apa saja manfaatnya? Ini beberapa manfaat yang mungkin didapatkan oleh pelajar yang mengikuti lomba debat.

Membangun mental berani, kritis, dan tegas
Seorang yang ikut dalam kompetisi berdebat mau tidak mau harus beradu argumen dengan orang lain, betul tidak? Pada saat seperti itu seorang yang, sorry to say pengecut, akan diam seribu bahasa tak tahu mau bilang apa. Oleh karena itulah, seorang debater (pendebat) harus mempunyai mental yang berani, setidaknya berbicara ketika orang waktunya, berani menjawab ketika ditanya, da n berani menanggung ketika ada masalah.

Selain itu, penyampaian argumen ketika debat haruslah tegas dan jelas. Ingat, tegas itu bukan nge-gas (teriak). Tegas itu berbicara lantang dan percaya diri, tidak terbata-bata-lah paling minimal Disitu kita belajar tegas.

Pernah denger istilah, ‘anak cerdas itu anak yang banyak bertanya ‘kenapa?’’ Hal itu bisa dibuktikan dengan ikut lomba debat. Setiap peserta debat harus selalu sensitif dan peka terhadap informasi, apakah itu fakta atau opini? Kritisi setiap informasi, begitulah kurang lebih tugas seorang debater.

Melatih kedewasaan dan empati
Kalau seorang pejalar sudah pernah mengikuti lomba debat (dan benar-benar berlomba tentunya), dia pasti menjadi pribadi yang lebih dewasa dan berempati. Kenapa? Karena setiap pendebat itu diharuskan selalu bersikap tenang dan memikirkan argument (solusi) terbaik yang bisa diterima semua pihak. Mungkin lebih mudah bila saya sebut diplomatis.

Selain itu, seorang pendebat juga diharuskan untuk bisa memposisikan diri sebagai pihak lawan, sehingga seorang debater akan terbiasa untuk berpikir sebelum bertindak dan merespon sesuai dengan situasi dan kondisi. Ya, memang tidak semua akan seperti itu. Argumentasi saya yang satu ini mungkin hanya akan berlaku untuk mereka yang benar-benar berlomba.

Membuat anak berwawasan luas
Tak bisa dipungkiri, menurut saya, semua pelajar yang pernah debat pasti berwawasan luas. Kok bisa? Karena ketika kita mengikuti lomba debat, topik yang dilombakan bermacam-macam, ada yang tentang politik, ekonomi, pendidikan, teknologi, lingkungan, bahkan keamanan nasional. Di usia yang begitu dini (usia eksplorasi diri), mereka dituntut untuk memikirkan masalah-masalah yang mungkin orang dewasa pun malas memikirkannya.

Belajar menjadi pribadi yang berpendirian
Ini adalah output yang mungkin paling terlihat dalam diri pelajar yang ikut atau pernah ikut lomba debat. Mereka menjadi pribadi yang lebih berpendirian, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, dan mungkin sebaliknya, ketika mereka berkata sesuatu (meski tak berniat persuasi atau provokasi) orang dapat terbawa dan terpengaruh oleh mereka. Stay calm, begitu cara mereka merespon suatu masalah.

Membangun rasa kerjasama dalam tim
Well, this one is actually a bit cliché. Saya bilang kalau pendebat itu punya rasa teamwork yang cukup baik karena kebanyakan sistem debat mengimplementasikan sistem debat berkelompok, entah itu bertiga atau berdua. Dalam satu tim tentunya masing-masing pendebat harus bisa menyamakan frekuensi agar tersusun argumentasi yang kuat dan saling menyokong satu sama lain. Disanalah para pelajar belajar arti penting kerjasama tim dan komunikasi. Susah? Ya, pake banget.

Membangun pribadi cerdas dalam berkata-kata
Jujur saya sebagai yang pernah ikut lomba debat merasa sangat bersyukur karena dengannya saya menjadi pribadi yang lebih luwes berkata-kata. Tidak kaku ataupun kikuk dalam berbicara. Itu sangat membantu saya ketika berbicara di depan khalayak (public speaking). Orang sering sebut saya confident, padahal saya gemetar setengah mampus. Tapi, karena sering dilatih untuk terlihat tenang ketika masih ikut lomba debat, saya jadi seperti itu. So grateful I ever joined in such a great competition.

Kesimpulan
Inti dari tulisan saya kali ini adalah debat memberi buaaanyak sekali manfaat bagi pelajar, tapi perlu saya garisbawahi bahwa ini tidak berlaku untuk semua pelajar. Ini hanya berlaku untuk mereka yang mau saja. Jadi, agak aneh menurut saya bila debat dijadikan salah satu materi dalam pelajar Bahasa Indonesia.

Ya, selagi masih ada sekolah, saya harap semakin hari sistem pendidikan di Indonesia bisa semakin baik lagi. Mungkin telat, tapi Selamat Hari Pendidikan, artikel ini saya dedikasikan untuk hari ini sebenarnya.

Menurut kalian sendiri gimana? Ada yang punya pendapat lain? Ada yang mau nambahin? Komentar, kritik dan saran selalu saya tunggu untuk kita diskusikan bareng, Terima kasih sudah bersedia membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Akhmad Syahroni

{facebook#https://www.facebook.com/akhmadsyahroni101} {twitter#https://www.twitter.com/mazdesu} {google-plus#https://plus.google.com} {youtube#https://www.youtube.com} {instagram#https://www.instagram.com/mazdesu}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget