Skip to main content

follow us

Sakapeung, Elmu Teh Ngahesekeun…
Halo hai, sob~! Entah kenapa hari ini saya ingin sekali curhat perkara kalimat, “Sakapeung, elmu teh ngahesekeun,” yang saya dengar dari salah satu ustadz yang saya kagumi, Ustadz Evie Effendi.

Untuk orang Sunda pasti tahu arti dari kalimat tersebut. Kurang lebih maknanya adalah, “Kadang, ilmu itu menghambat,” Setidaknya itulah yang saya ingin bahas.

Setuju nggak dengan statement ini?

Kadang saya merasa, semakin banyak ilmu yang dipelajari, semakin banyak pengetahuan yang didapat, menghambat saya untuk bekerja, apalagi kalau judulnya gratisan.

Mengapa menghambat?

Karena ketika kita sudah punya ilmu, kadang, kita lebih memutuskan dengan logika ketimbang rasa. Lebih mengedepankan legislasi dan teori daripada aksi. Dan parahnya kadang kita lebih mengagungkan keuntungan ketimbang kemaslahatan.

Pernah saya melihat ada sebuah kecelakaan mobil. Sebuah mobil parkir terlalu mepet sehingga bannya masuk ke selokan. Bapak-bapak pun berkumpul mencoba menolong mobil tersebut.

Karena memang itu komplek elit, saya yakin mereka orang-orang yang ‘berpendidikan’. Hal itu pun makin jelas ketika saya mendengarkan percakapan para bapak-bapak terhormat tersebut yang sibuk membahas teori-teori cara mengeluarkan ban mobil yang masuk got tersebut secara ‘cerdas dan elegan’.

‘Panggil derek’-lah, ambil ini-lah itu-lah. Ribet. Terlalu teoritis dengan dalil, “Kita itu harus kerja pintar,” Sedangkan bapak-bapak yang sehari-harinya dagang, sekuriti, atau mungkil hanya kuli panggul mengambil inisiatif masuk ke dalam selokan lalu menyimpan beberapa lapis papan di bawah ban mobil dan sebagian lainnya mengangkat mobil dari bawah selokan.

Akhirnya, dengan sedikit kotor-bau-lelah, mobil terperosok tersebut bisa dikeluarkan. Nggak perlu panggil mobil derek, nggak perlu ambil barang-barang yang sekiranya memakan waktu. Cukup perlu jadi sedikit bodoh untuk ingat kalau selokan itu kotor, dan utamakan aksi ketimbang teori karena AKSI akan menghasilkan REAKSI sedangkan TEORI hanya menghasilkan ASUMSI.

Dari kejadian itu saya kadang jadi bertanya, “Apa memang iya kuliah itu membuat seorang menjadi lebih cerdas?

Kadang saya berharap saya punya gelar pendidikan dan wawasan yang seluas-luasnya, tapi dengan respon dan pola pikir seperti ‘rakyat biasa’. Pola pikir ‘yang penting beres dulu, masalah ini efektif atau nggak, hambur atau nggak, melanggar hukum atau nggak, itu urusan ntar’-lah yang ingin saya miliki dan saya harap banyak orang punya pola pikir demikian.

Belum lagi, kadang karena kita sudah ‘berilmu’ kita jadi agak sedikit perhitungan untuk memberi bantuan. “Saya udah sekolah mahal, masa ilmu saya mau saya kasih secara cuma-cuma?” Ya, kaya jadi dokter itu kan kuliahnya mahal, masa kalau ada tetangga sakit, kita obatin cuma-cuma di rumahnya? Mending bawa ke Rumah Sakit dulu aja biar bisa jadi uang.

Oke, itu kayanya terlalu sinetron, but I’m not joking around.

Saya yakin, ada satu atau banyak manusia money-oriented yang punya cara pandang seperti itu.

Belum lagi, kadang, ketika kita sudah punya gelar akademik, kita agak minder untuk gaul di warkop pinggiran. Padahal, percakapan di warung kopi kadang tidak akademis maupun filosopis tapi lebih sesuai dengan realita. It is true, buds!

Overall, kadang ilmu itu membuat kita terlalu banyak menghitung untung-rugi.
Membuat kita terlalu banyak argumentasi dan diskusi.
Membuat kita arogan dan merasa tinggi.
Again, my problem is only, sakapeung elmu teh ngahesekeun.

Semoga ada hikmah dari tulisan geje saya ini. Terima kasih telah bersedia membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar