Skip to main content

follow us

Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Agama yang baik bagi semua yang ada di bumi. Islam datang ke dunia ini melalui orang terbaik, Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam, dan tercatat dengan rapih di dalam kitab suci yang dijanjikanNya tidak akan berubah hingga akhir zaman, Al Qur'an Al Kariim.

Islam disebarkan dengan cara dakwah. Dan sekarang ini, aktivitas dakwah ini seakan kembali hidup di bumi yang mulai sepi akan sentuhan islam. Mulai bermunculan para da'i dan ulama yang membantu ummat kembali mengenal islam. Dan karenanya, islam mulai bergema dimana-mana.

Berkat jasa-jasa para da'i dan ulama, islam kini mulai terdengar dimana-mana, tak hanya di masjid kala adzan sholat berkumandang.

Sempat saya bertanya pertanyaan sepele, lalu apakah sudah baik bagi saya mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan oleh para da'i dan ulama tersebut? Dapatkah saya yang fakir ilmu ini berdakwah seperti halnya mereka yang kuat dengan dalil-dalilnya? Dapatkah saya membantu mereka berjihad, mensyi'arkan ajaran Allah, seperti halnya para da'i dan ulama?

Maka, izinkan saya yang fakir ilmu ini sedikit berpendapat tentang hal ini.

Pernah sekali saya dengar dari salah satu ustadz, beliau mengatakan bahwa dakwah adalah tugas setiap muslim, termasuk anda (yang muslim) dan saya. Jadi, kurang pas hukumnya kalau kita mempelajari tapi tidak mengamalkan. Mendapatkan ilmu tapi tidak memberikannya pada yang lain. Bahkan Rasulullah pun mengajarkan untuk kita menyampaikan walau hanya satu ayat. Oleh karena itu, wajib bagi semua orang untuk ikut berdakwah karena dakwah bukanlah tugas ustadz saja, bukan tugas guru agama saja, bukan tugas alim ulama saja.

Dan, perlu dicatat bahwa dakwah bukanlah kegiatan berbicara diatas mimbar semata. Dakwah itu sangat fleksibel, bisa dilakukan dengan banyak cara.

Bagi para ustadz tentu dengan menyiarkan di atas mimbar-mimbar masjidlah cara termudah untuk mereka berdakwah.

Bagi orang tua, salah satu bentuk dakwahnya adalah dengan memberi contoh dan mendidik anak-anaknya agar kenal akan islam, cinta pada Al Qur’an, rindu akan surga, dan takut akan siksa api neraka.

Bagi mahasiswa, aktivitas dakwahnya adalah dengan mengajak teman-teman sholat berjamaah, mengajak untuk ikut ke kajian, dan menolong teman yang melakukan kesalahan (dosa), ya contoh kecilnya itu mengingatkan tentang bagaimana hukumnya pacaran.

Bagi seorang pedagang, bentuk dakwahnya adalah dengan menerapkan aturan-aturan islam dalam bermuamalah, membantu orang yang membutuhkan, serta mengajarkan konsep muamalah islam pada pedagang lainnya.

Bagi seorang pemimpin, bentuk dakwahnya adalah dengan membuat peraturan-peraturan yang membela islam, membantu ummat dalam menyiarkan islam, dan melakukan kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan syariat islam.

Pada intinya, apapun posisi kita, pekerjaan kita, tanggung jawab untuk memperkenalkan islam dan konsep kehidupannya adalah tanggung jawab kita.

Inti dari dakwah adalah memperkenalkan serta mengamalkan satu aturan pokok dalam islam itu sendiri, yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Mengajak orang pada kebaikan, serta melarang orang dari melakukan kesalahan.

Dasar hukum kita tentu saja Al Qur’an dan Al-Hadist (sunnah).

Nggak usah khawatir soal cacian atau bully-an mereka yang mencibir keras kita atas aksi kita mengenalkan islam. Rasulullah sendiri seringkali dicibir dan dihina atas tindakannya menyuarakan laa ilaaha ilallah. Tapi beliau hanya tersenyum sambil berkata, “mereka belum tahu…”

Ya, orang yang belum terketuk hatinya akan mencibir dengan bermacam-macam umpatan.
“Dasar sok alim,”
“Dasar munafik,”
Dan ribuan jenis hinaan lainnya. Yang perlu dilakukan untuk itu semua hanya satu, senyumin aja.

Saya mengutip ucapan dari Ustadz Evie Effendie, “Mendingan mana, capek sekarang atau nanti?”

Maka jawablah lebih baik capek sekarang (di dunia). Lelah berjalan di jalan Allah yang kadang (secara sosial ekonomi) nampak susah, lelah dijauhi oleh masyarakat sekitar karena istiqomah menerapkan sistem islam, lelah karena kewajiban rukun islam yang harus selalu dijalankan.

Tapi itu setriliyun kali lebih baik ketimbang capek nanti (di akhirat). Capek karena ditanya berjuta-juta pertanyaan tentang bagaimana kita memanfaatkan hidup kita, capek dengan cambukkan dan siksaan malaikat untuk setiap pertanyaan yang gagal kita jawab, capek karena panas terik matahari yang hanya sejengkal dari kepala.

Berdakwahlah. Jangan bilang aku nggak bisa. Seperti halnya pepatah barat mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma” Maka begitupun dengan dakwah, “Banyak cara mencapai surga,”

Pertanyaannya adalah, maukah kita menjadi bagian dari mereka yang diundang secara ekslusif oleh Allah untuk masuk ke surga?

Melalui artikel ini pun saya mohon izin kepada semua pembaca, sepertinya mulai saat ini, blog Mazdesu akan sedikit lebih ramai diisi dengan artikel-artikel yang berkenaan dengan ilmu-ilmu keislaman. Saya harap teman-teman tidak keberatan, dan semoga langkah ini menjadikan blog ini ladang amal bagi saya.

Terima kasih telah membaca. Mari kita sama-sama berdakwah di jalan Allah dengan cara kita masing-masing. Seperti halnya saya yang mencoba menyiarkan islam melalui tulisan, kalian pun punya cara untuk mengenalkan islam dengan cara yang elegan.

Jangan lupa berkomentar dan sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar