Skip to main content

follow us

Pernah nggak kalian merasa pernah punya cinta pertama? Gimana sih rasanya? Ketika cinta pertama itu hadir, perasaan bahagia dan berbunga-bunga timbul entah dari mana. Kala perasaan ini hinggap di hati manusia, maka pada saat itu pula besar kemungkinan manusia tersebut kalap dan lupa.

Kadang, mereka tidak lagi bisa mengendalikan tubuh dan pikirannya supaya tetap waras. Kadang mereka cuek dengan wibawa, rela melakukan apa saja untuk bersama dengannya, rela bertingkah konyol dan bodoh hanya untuk melihat senyumnya, rela untuk menghabiskan waktu dan tenaga demi dirinya.

Dirinya yang dimaksud adalah si cinta pertama. Entah kita menemukannya di SD, SMP, SMA, kampus, tempat kerja, atau di jalan. Ketika si dia sudah ada, maka tingkah gila pun siap hadir bersamanya.

Tapi, ada satu hal yang kayanya kita semua belum sadar, termasuk saya. Yang saya definisikan tadi itu bukanlah cinta pertama. Melainkan sosok yang membuat kita lupa akan cinta sejati kita. Kita kadang lupa bahwa sejak dulu, ada dia yang sudah dengan tulus mencintai kita. Panggilan sayangnya biasanya IBU, BUNDA, MAMAH, ENYAK, MOM, dan masih banyak lainnya.

Coba kita merenung bersama, sudah belum sih, kita melakukan hal-hal gila untuk sekedar membuat si doi tertawa atau setidaknya tersenyum bahagia?
Sudah belum kita meluangkan seluruh waktu dan tenaga kita hanya untuk bersama dia?
Kalau saya sendiri, jujur, BELUM.

Saya belum bisa membuat dia tersenyum bangga meski saya tahu dia selalu berucap dalam hati, “You are my best, and will always be.”

Saya belum pernah meluangkan seluruh waktu dan tenaga saya untuk bersamanya, membantunya, atau sekedar duduk disampingnya, mendengar keluh kesah kehidupannya hingga akhirnya dia tertidur lelap setelah lelah bercerita.

Saya harap, hanya saya saja yang belum melakukannya. Dan mungkin beberapa diantara kawan yang sedang membacanya.

Saya tahu ini sedikit lebay! Tapi, saya harap pesan saya ini tidak terabai. Saya menulis pesan ini karena beberapa hari yang lalu, salah seorang teman saya telah kehilangan doi-nya. Dan penyesalannya adalah apa yang sedang saya renungi.

Bukan hari ibu saja kita dekat dengan hari ibu, mungkin setiap hari haruslah jadi hari ibu.

Bahkan dalam agamaku, ada sebuah titah untuk menghargai ibu, menyayangi ibu, dan menuruti ibu, lalu barulah ayah.

Semoga kita bisa melihat senyum manis dan bahagia ibu kita sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan kita.

Kawanmu, 16 Agustus 2018

Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar