September 2018

Hukum Berkumur dan Beristinsyaq Saat Puasa
Apakah batal apabila berkumur atau beristinsyaq (memasukkan air ke hidung) pada saat puasa?

Bismillahirahmannirahim

Hal tersebut merupakan hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari namun seringkali membuat kita was-was dalam hidup. Oleh karena itu, hal ini pun perlu kita kaji bersama.

Ulama berfatwa bahwa berkumur dan beristinsyaq pada saat puasa tidak membatalkan puasa.

Adapun apabila ada air yang tertelan atau terhirup ke kerongkongan, maka hukum yang diberlakukan adalah hukum ketidaksengajaan sehingga puasanya tetap dianggap sah dan tidak batal (selama memang benar tidak sengaja tertelan).

Hukum yang sama pun berlaku untuk air liur/ air ludah yang tertelan. Apabila untuk alasan yang sesuai syariat (memperbaiki suara yang mulai tidak jelas karena kekeringan) maka sah hukumnya menelan air liur asal tidak berlebihan.

Namun, apabila kawan merasa was-was dan takut terminum, maka sah hukumnya berwudhu tanpa berkumur ataupun istinsyaq karena hal tersebut merupakan sunnah.

Wallahualam bishshawwab.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan bagi kita semua. Terima kasih telah berkenan membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Apakah Mimisan Membatalkan Wudhu?
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirrahmannirahim

Berdasarkan beberapa sumber yang saya temukan, ada yang beranggapan membatalkan ada juga yang tidak. Saya pun mengambil pendapat bahwa mimisan tidaklah membatalkan wudhu karena hal apapun yang keluar selain dari kelamin dan dubur (anus) tidak membatalkan wudhu. Jadi, baik darah yang keluar dari hidung (mimisan), keringat, maupun muntah tidaklah membatalkan wudhu.

Adapun pertanyaan yang berkenaan dengan mimisan adalah apakah pakaian menjadi najis bila terkena darah dari mimisan? Maka pendapat yang saya ambil adalah bahwa pakaian kita tidaklah najis tapi tetap perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum mengerjakan sebuah ibadah (seperti sholat). Adapun dibersihkan adalah agar tidak mengganggu orang lain dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan (seperti aroma yang tidak sedap).

Hal tersebut didasarkan pada kisah sahabat Umar bin Khattab Radiyallahu anhu yang tetap melanjutkan sholat kala bajunya berlumuran darah akibat ditusuk oleh Abu Lu’luah.

Wallahu’alam bishshawwab.

Bila teman-teman punya pendapat lain, jangan sungkan untuk mendiskusikannya melalui kolom komentar di bawah. Terima kasih telah berkenan membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Referensi:
  • https://muslimafiyah.com/shalat-dengan-darah-di-baju.html
  • https://kesehatanmuslim.com/apakah-mimisan-membatalkan-wudhu/
  • https://islamqa.info/id/88040
  • https://rumaysho.com/940-dalil-ulama-yang-menganggap-darah-tidak-najis.html

Adab Menuntut Ilmu (Menurut Islam)
Semua orang punya kewajiban menuntut ilmu, baik saya maupun teman-teman. Ilmu itu sendiri kelak akan bermanfaat untuk masa depan kita.

Tapi kadang kita melewatkan satu hal penting dalam menuntut ilmu sehingga ilmu kita nggak barokah dan tidak terserap secara sempurna.

Islam mengajarkan adab menuntut ilmu yang sesuai dengan tuntunan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Bagaimanakah itu?

Sebelum mencari ilmu pastikan kita memenuhi syarat berikut:
  1. Bersihkan hati dari sifat-sifat yang tidak baik seperti ingin dilihat sholeh atau pintar.
  2. Tanamkan sifat ikhlas lillahi ta'ala.
  3. Luruskan niat mencari ilmu untuk menjadi pribadi yang lebih tawakkal dan tawadhu'.
Itu merupakan tiga hal yang harus dipersiapkan sebelum kita berangkat ke majelis ilmu. Alasannya sederhana, karena terkadang kita mencari ilmu bukan untuk mengharapkan ridha Allah Subhanahu wata'ala tapi untuk mendapatkan pujian dari orang lain atau sesederhana agar bisa mendebat argumen orang lain.

Setelah kita pahami tiga syarat awal, selanjutnya kita perlu memahami beberapa adab lain dalam menuntut ilmu. Berikut adalah beberapa adab yang perlu kita ketahui.

1. Bersih dan mengenakan pakaian terbaik (dan wewangian bagi pria)
 Ilmu merupakan harta yang sangat berharga dan lebih dari harta benda apapun. Ilmu didapatkan dengan cara yang mulia, maka guna menghormati ilmu kita dianjurkan untuk membersihkan diri (mandi) dan mengenakan pakaian terbaik.

Selain untuk menunjukkan keseriusan kita dalam menuntut ilmu, hal ini juga untuk membuat orang-orang di dalam majelis tenang dan senang dengan keberadaan kita.

Bayangkan kalau kita habis berkeringat karena pekerjaan atau olahraga lalu kita langsung pergi ke majelis ilmu. Kan aroma tubuh kita jadi mengganggu yang lain.

Oleh karena itu, perlu bagi kita mensucikan diri terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu.

2. Muliakan guru/ ustadz/ kyai/ ulama yang memberi ilmu
Menuntut ilmu adalah istilah lain dari belajar. Dan tentunya untuk belajar kita perlu seorang guru yang mengajarkan kepada kita ilmu yang ingin/ perlu kita ketahui.

Dalam islam, kita diharuskan bersikap memuliakan guru atau orang yang memberi kita ilmu. Caranya dengan:
  1. Memberi salam kepada beliau;
  2. Tidak duduk lebih tinggi daripada beliau;
  3. Duduk dengan posisi yang baik dan sopan;
  4. Mendengarkan dengan seksama ilmu yang beliau sampaikan;
  5. Tidak memotong pembicaraan beliau;
  6. Menerima pendapat beliau meski berbeda pandangan dengan kita lalu mendiskusikannya di belakang;
  7. Tidak lupa meminta doa dan mengucapkan salam.
Itulah beberapa adab terhadap guru kita yang kadang kita lupa untuk terapkan kala menimba ilmu dalam suatu majelis.

3. Muliakan teman dan orang-orang yang berada dalam majelis
Ketika datang ke suatu majelis dan disana ada orang lain yang sama-sama mencari ilmu, maka perlu bagi kita untuk menghormati beliau, bersikap tawadhu', tidak membuat beliau risih apalagi sampai mengusir beliau (meminta beliau pindah) dan tak juga lupa mengucapkan salam kepada beliau.

4. Bertanya dengan baik dan seperlunya
Kadang, ketika kita sedang belajar, timbul pertanyaan dari hal yang sedang dibahas atau dipelajari. Tentu untuk menjawab rasa penasaran tersebut kita perlu bertanya, maka ketika bertanya pastikan kita tidak memotong pembahasan sang guru terlebih dahulu. Lalu, pastikan bahwa niat kita bertanya itu benar untuk mendapatkan pemahaman yang matang, bukan untuk menguji kemampuan sang guru.

5. Berterima kasih
Hal terakhir yang tak kalah penting, jangan lupa untuk berterima kasih pada ia yang memberi kita ilmu. Ini hal yang kadang kita lupakan. Setelah puas dengan ilmu yang didapat, kita langsung bergegas pulang. Salah? Tidak. Itu sah-sah saja. Tapi betapa bahagia dan merasa dihargainya seorang manusia ketika mendapat ucapan terima kasih atas usahanya mengajar.

Sepele emang, tapi coba praktekin dan lihat respon sang guru/ ustadz, pasti terbersit senyum bahagia di wajahnya. Dan jangan lupa kalau membuat orang lain bahagia itu adalah ibadah.


Sebenarnya masih banyak yang perlu dibahas mengenai adab menuntut ilmu ini. Adapun referensi yang digunakan masihlah sangat sedikit, jadi besar kemungkinan tulisan ini akan berlanjut atau diperbaharui suatu saat kelak.

Apabila ada hal-hal yang perlu segera ditambahkan, jangan sungkan menuliskannya melalui kolom komentar di bawah. Terima kasih telah berkenan membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Sumber Ilmu: Kajian Ustadz Nur Ihsan Jundullah di Masjid Trans Studio Bandung pada tanggal 7 September 2018

Buat Artikel Baru atau Edit Artikel Lama?
Sebagai seorang blogger, satu hal yang sering jadi pertanyaan adalah, 'mana yang lebih baik, membuat sebanyak-banyaknya artikel atau mengedit artikel-artikel lama?'

Nah, pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit membahas tentang hal tersebut.

CATATAN: Tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi, jadi saya harap ketidakakuratan informasi tidak terlalu dipermasalahkan.

Ketika saya dihadapkan dengan dua pertanyaan tersebut, maka saya memilih untuk tetap konsisten membuat konten-konten baru untuk blog saya, tapi juga memperhatikan kualitas tulisan lama saya.

Mungkin jarang kita perhatikan bahwa tulisan lama kita justru yang lebih membantu perkembangan blog kita, khususnya ketika tulisan lama kita merupakan tulisan long-term information seperti materi sekolah.

Nah, untuk mengetahui apakah artikel lama kita itu memberi pengaruh terhadap perkembangan blog kita atau tidak, kita bisa mengetahuinya melalui Google Webmasters Tools.

Disana kita bisa mengetahui seberapa sering blog kita muncul di hasil pencarian Google, kata kunci apa yang digunakan oleh pengunjung, dan artikel mana yang muncul dari hasil keyword tersebut.

Apabila volume kemunculan artikel itu cukup besar, maka bisa dikatakan bahwa artikel tersebut perlu untuk diedit, diperbaiki, ditambahkan informasi dan media-media pendukung sehingga pengunjung yang nantinya datang berkunjung ke blog kita merasa nyaman membaca artikel tersebut dan betah berlama-lama di blog kita.

Alhasil, tulisan lama tersebut dapat mendongkrak kredibilitas blog kita dengan terus menerus muncul di page one hasil pencarian Google.

Tapi itu tidak berarti kita menurunkan intensitas update tulisan baru untuk blog kita.

Kesimpulan
Jadi, artikel baru dan artikel lama sama-sama penting bagi pertumbuhan blog kita. Jangan pilih salah satu untuk mengembangkan blog kita karena ini bukan pilihan. Terus konsisten untuk rutin mengupdate blog kita, dan juga kembangkan artikel-artikel lama yang sering muncul di hasil pencarian Google.

Begitulah kiranya yang bisa saya bagikan tentang pengalaman saya menjawab pertanyaan tersebut. Saya yakin banyak pertanyaan yang muncul di benak teman-teman. Jadi, jangan sungkan untuk bertanya di kolom komentar.

Terima kasih telah berkenan membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Akhmad Syahroni

{facebook#https://www.facebook.com/akhmadsyahroni101} {twitter#https://www.twitter.com/mazdesu} {google-plus#https://plus.google.com} {youtube#https://www.youtube.com} {instagram#https://www.instagram.com/mazdesu}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget