Menjadi Multi-tasking Itu Baik atau Buruk?

Menjadi Multi-tasking Itu Baik atau Buruk?

Beberapa orang (mungkin termasuk saya) sangat senang melakukan berbagai macam hal sekaligus. Nah, perilaku seperti itu biasa disebut dengan istilah multi-tasking. Sempat saya bertanya, apakah menjadi seorang yang multi-tasking itu baik atau tidak? Akhirnya saya pun membuat riset kecil-kecilan untuk menjawab rasa penasaran saya tersebut.

Pengertian Multi-tasking

Sebelum kita membahas tentang baik-buruknya multi-tasking, mungkin ada baiknya kita satu frekuensikan terlebih dahulu pemahaman kita tentang multi-tasking ini.

Menurut Study.com, multi-tasking is when one person handles more than one task at the same time. Terjemahannya kurang lebih “multi-tasking (tugas ganda) adalah ketika seseorang melakukan dua pekerjaan dalam satu waktu.”

Secara umum, kita bisa artikan bahwa melakukan dua hal sekaligus adalah multi-tasking. Contoh sederhananya adalah seorang ibu yang kadang memasak sambil memperhatikan anak di dapur. Tapi, apakah aktif di Facebook dan Instagram dalam satu waktu juga disebut multi-tasking? Entahlah.

Intinya, mari kita sepakati bahwa orang yang melakukan dua aktivitas secara bersamaan disebut orang yang multi-tasking.

Dampak Positif Multi-tasking

1. Pekerjaan lebih cepat selesai

Dengan melakukan beberapa hal sekaligus, tentu pekerjaan kita semakin cepat selesai. Kalau tugas sudah selesai, tentu kita jadi punya waktu untuk bersantai atau melakukan hal-hal yang bersifat personal seperti main pabji (PUBG) atau scroll timeline Instagram. Selain itu, jika pekerjaan kita bukanlah yang terikat dengan waktu (kantor), itu berarti kita pun bisa pulang lebih cepat. Untuk saya, itu adalah kenikmatan hakiki seorang pekerja.

2. Melatih Konsentrasi

Orang yang terbiasa multi-tasking akan menjadi pribadi yang sangat konsentrasi terhadap segala hal. Mungkin orang-orang seperti ini punya prinsip:
Tidak boleh ada kesalahan. Satu kesalahan pun tak bisa ditolerir.
Ini bagus, khususnya di dunia kerja. Orang yang punya fokus dan konsentrasi yang baik sangat diperlukan khususnya di dunia industri yang sangat mengandalkan kecepatan dan kecekatan.

Dampak Negatif Multi-tasking

1. Hasil yang pas-pasan

Saya adalah seorang content writer (baca: penulis) dan saya pernah multi-tasking, tepatnya membuat konten tulisan sambil memikirkan evaluasi kinerja mingguan. Hasilnya, kedua tugas tersebut selesai.

Taaaapiii…

Tulisan saya hari itu tidak memuaskan sama sekali. Ketidakpuasaan tersebut merupakan pendapat saya pribadi sebagai yang menulis. Yang empunya karya saja tidak puas, apalagi yang menikmati karya.

Hasil evaluasi saya pun kurang memuaskan. Kalau yang ini sudah akumulasi pendapat pribadi dan juga pendapat bos. Data yang dibawa kurang relevan dan sifatnya terlalu intuitif. Itu komentar yang saya dapat dari bos saya.

Jadi, kalau anda adalah orang yang punya prinsip ‘bekerja untuk berkarya’, maka menjadi pribadi yang multi-tasking tidaklah sesuai. Ini juga menurut saya pribadi saja~

2. Pusing

Saya pernah dibebani tanggung jawab pekerjaan yang bertumpuk sekaligus untuk satu hari. Karena saya merasa sanggup mengerjakan semuanya, saya pun mengatur meja kerja saya sedemikian rupa dan melakukan semua pekerjaan yang bisa dilakukan bersamaan sekaligus.

Entah kawan pernah merasakannya atau tidak, tapi ketika saya melakukannya dalam jangka waktu yang terbilang lama (sekitar 30 menitan), saya merasa mual dan ingin muntah. Mungkin ini faktor belum terbiasa, tapi dari situ saya bisa memahami bahwa menjadi seorang yang multi-tasking itu berat!

Dan saya pun menarik kesimpulan bahwa kalian belum dikatakan multi-tasking ketika kalian belum melakukan banyak hal sekaligus sampai kalian merasa mual. Tentunya mual yang disebabkan karena kalian terus berfikir dan mencoba mengintegrasikan setiap pekerjaan agar bisa bergerak efektif dan efisien.

Untuk saat ini itulah beberapa hal yang saya bisa utarakan mengenai dampak multi-tasking ini. Menurut kalian sendiri, bagaimana dampak dari multi-tasking? Apakah kalian tergolong orang-orang yang setuju dengan multi-tasking atau menolak bekerja multi-tasking? Sampaikan pendapat kalian di kolom komentar di bawah.

Itulah yang bisa saya tulis kali ini. Terima kasih telah bersedia membaca dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Comments

Untuk kawan yang mau ngasih komentar, kritik, saran silahkan login akun Google kalian. Baru nanti bisa komen disini. Nggak punya? Buat~!