Skip to main content

follow us

1 Dollar Jadi Rp14.500, Ini Pasti Ulah Pak Jokowi!
2018 adalah tahun penting yang sering kita sebut sebagai tahun politik. Sekarang ini, hampir semua aspek dalam hidup kita masyarakat Indonesia dipolitisasi. Tidak percaya? Silahkan kalian perhatikan sendiri lingkungan sekitar kalian.

Oke, di artikel kali ini (ditulis pada tanggal 7 November 2018) saya mau sedikit membahas tentang salah satu hal lucu yang saya temukan di tahun 2018.

Beberapa waktu lalu, Indonesia sempat heboh dengan isu nilai rupiah yang turun. Karena isu ini, orang-orang yang disebut cebongers dan kampreters pun mulai sibuk beradu argumen saling menyerang dan melindungi capres mereka masing-masing.

Lalu, setelah beberapa waktu berselang, saya pun menemukan fakta mengejutkan ini:


Ya, nilai Rupiah turun jadi Rp14.500 per 6 November 2018. Tapi kenapa hal ini tidak dibahas oleh netijen Indonesia? Kenapa hal ini tidak dibesar-besarkan?

Sayangnya rasa kaget saya tidak seluar-biasa ketika saya dinyatakan lulus dari kampus yang menurut saya sangat keras (medannya).

Saya bisa langsung berspekulasi bahwa ini semua sesederhana karena isu-isu yang hangat diperbincangkan merupakan salah satu bentuk gerakan politik untuk mempengaruhi sekelompok orang.

Sebelum saya lanjut lebih jauh untuk memberikan pendapat saya, tolong baca catatan kecil saya di bawah ini:
CATATAN: Saya menulis ini sebagai pihak yang netral. Saya tidak menyatakan dukungan ke pak Jokowi ataupun pak Prabowo.
 Saya tidak menutup mata bahwa pihak pak Prabowo pun mendapat perlakuan tidak enak dari netijen. Isu terbaru yang menimpa pak Prabowo adalah isu berkaitan dengan wajah Boyolali yang katanya nggak kaya tampang orang kaya.

Orang yang mendengar statemen pak Prabowo tersebut dengan mata terbuka dan tanpa keberpihakan pasti dengan mudah menerima bahwa itu humor beliau. Sayangnya, netijen Indonesia yang budiman terlalu cerdas untuk paham hal sepele seperti ini.

Tapi, mari kita bahas perihal ini lain waktu.

Sekarang, mari kita bahas kembali isu tentang naik-turunnya nilai Rupiah ini.

Ketika isu ini mulai menghangat, Menteri Keuangan, ibu Sri Mulyani, langsung memberi peringatan serta saran untuk seluruh bangsa Indonesia untuk menahan hasrat hedonis kita untuk sesaat. Beliau meminta kita untuk menghentikkan dulu aktivitas membeli barang impor, berhenti jalan-jalan ke luar negeri, dan segera menukarkan aset dalam bentuk USD (Dollar Amerika) ke Rupiah.

Ajakan ini disambut baik oleh beberapa pihak yang paham tentang fungsi dari imbauan dan ajakan ibu Sri Mulyani tersebut. Tapi, karena faktor pendidikan atau memang ndableg, banyak juga orang yang menghiraukan peringatan dari ibu Sri Mulyani tersebut.

Lalu, ketika Rupiah naik hingga 15 ribu, tiba-tiba nama Jokowi yang entah apa salah beliau disangkutpautkan dengan masalah tersebut. Parahnya, program kerja beliau membangun infrastruktur dengan sistem mencari investor asing (ngutang) pun jadi terbawa.

Saya memang bukan siapa-siapa, tapi jujur saya pengen sekali bilang: "Hei, gimana kabar? Masih sehat? Kok masih gobl*ok, sih?"

Sekali lagi, saya tidak terkejut dengan isu-isu seperti ini karena toh ini tahun politik.

Singkat cerita setelah nilai Rupiah menguat, isu ini pun tiba-tiba redup dan tidak lagi terbahas entah kenapa.

Beberapa netijen ada yang berkomentar bahwa nilai rupiah tidak menguat, tapi nilai dollar yang sedang melemah karena Amerika sedang perang dingin dengan Cina atau Tiongkok.

Kalau saya pendukung Jokowi mungkin saya akan bilang, "Lah, terus waktu kemarin saya bilang kalau bukan nilai Rupiah yang turun tapi nilai Dollar yang menguat, kenapa antum nggak terima?"

Tapi ya, sudahlah. Saya hanya pemerhati tingkah laku netijen yang ada-ada saja.

Lucu, kan? Entahlah, bisa jadi isu ini hanya lucu untuk saya pribadi dan tidak lucu untuk kalian.

Dan, perjalanan menuju Pilpres masih panjang. Masih mungkin tercipta isu-isu lain yang sama menariknya untuk kita bahas. Kita nantikan saja.

Oh iya, saya tunggu komentar kalian. Kita diskusi tentang isu ini, yuk biar tambah luas wawasan dan pandangan kita tentang isu per-politik-an di Indonesia sekarang ini.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar