January 2019

Perumpanaan Rasulullah dan UmatNya
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tulisan ini bukanlah tulisan saya pribadi. Jujur saya mengutip ini dari salah satu kiriman yang masuk ke WhatsApp saya. Bila benar datang dari Allah dan bila salah itu sepenuhnya keteledoran saya. Harap maklum.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan ummatku, adalah seperti orang yang menyalakan api. Lalu serangga dan kupu-kupu datang dan masuk ke dalam api tersebut. Aku adalah orang yang menahan kalian dari belakang, tetapi kalian nekad masuk padanya." [HR. Muslim juz 4, hal. 1789]

Hikmah Hadist

Dari hadist tersebut, ada beberapa pelajaran/ hikmah yang bisa kita ambil.

Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasalam berkendak memberikan perumpamaan beliau dengan umatnya. Seperti orang yang menyalakan api lalu serangga dan kupu-kupu ingin masuk ke dalam api itu. Ini merupakan kebiasaan hewan-hewan itu, bila ada api dinyalakan di atas tanah datang dan ingin masuk ke dalamnya. Maka tatkala ada yang ingin mencegahnya masuk ke dalam api tapi mereka enggan tidak memperdulikannya. Itulah sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa salam, sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan umatku.

Hadits ini juga menunjukkan bagaimana keinginan yang kuat Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa salam menjaga umatnya untuk tidak masuk ke dalam neraka. Tapi umatnya kadang masih saja enggan dan berpaling. Maka sudah seharusnya kita selaku umat selalu berusaha menyelamatkan dirinya dengan menjaga sunah-sunahnya, dengan mentaatinya. Karena dengan sunahnya, Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasalam ingin memberikan petunjuk akan kebaikan dan menjaga dari keburukan dunia dan akhirat.

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. Al-Hasyr 59: 7)


Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadikan kita pribadi yang lebih cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya dibuktikan dengan menghidupkan sunnahnya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Jalan Tol Itu Bukan Infrastruktur


Beberapa waktu lalu banyak netijen yang berkomentar 'pedas' di kolom komentar pak presiden Joko Widodo. Sebenarnya saya cuek-cuek aja sama komentar mereka, tapi ada satu komentar atau beberapa komentar serupa yang sedikit 'mencolek' perhatian saya.
Ya, ada beberapa netijen budiman yang mengomentari salah satu produk rezim pak Jokowi, yaitu jalan tol.

*maaf saya lupa screenshot komentarnya, silahkan scroll sendiri di postingan-postingan Instagram pak Jokowi, mungkin masih ada.*

Disclaimer: Tulisan ini murni adalah opini keresahan saya dan bukan bermaksud menjadi alat pembelaan terhadap rezim pun bukan untuk menjatuhkan pihak oposisi.

Singkat cerita, saya menemukan beberapa komentar dari para netijen yang terhormat dan tercerdas membahas mengenai jalan tol yang banyak dibangga-banggakan oleh pak Jokowi (atau mungkin oleh rezimnya). Lalu, para netijen ini pun mengomentari dengan kata-kata kurang lebih seperti ini:

"Jalan tol itu bukan infrastruktur, ce**bong. Masa infrastruktur cuma bisa dimanfaatin sama orang yang bayar. Infrastruktur itu gratis, tol**lol. Jalan raya itu infrastruktur, kalau jalan tol itu investasi utang rezim aja, go***blok!"

Dan masih panjang lagi hujatan cerdas dari netijen-netijen ini.

Oke, disini saya mau sedikit berdiskusi karena jujur saya agak risih ketika menemukan komentar atau postingan seperti ini. Saya bukan mau mendikte orang-orang seperti ini, tapi ayolaaah, 2019 masih mau aja nelen mentah-mentah opini orang?

Saya ingat pernah mendengar argumen ini diucapkan oleh seorang panelis di suatu acara sebut saja Indonesia Lawyer Club, tapi saya lupa siapa. Yang jelas, komentar netizen ini sama persis seperti apa yang dikatakan oleh panelis tersebut. Dan inilah yang saya sayangkan! Sebagai pengguna aktif smartphone harusnya kita sudah cukup smart untuk mengidentifikasi dan mengklarifikasi informasi sebelum men-share-nya kesana-sini.

Mari kita berlogika sedikit.

JALAN TOL BUKAN INFRASTRUKTUR

Di komentar tersebut jelas sekali saya temukan ada redaksi bahwa JALAN TOL BUKAN INFRASTRUKTUR.

Setelah saya cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, definisi infrastruktur adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek, dsb.) atau disebut juga prasarana.

Berdasarkan definisi tersebut, maka, saya yang awam ini mengkategorikan jalan tol sebagai infrastruktur.

Kenapa?

Karena dengan adanya jalan tol, proses distribusi menjadi lebih mudah sehingga proses produksi juga semakin mudah. Intinya, jalan tol menjadi alat yang membantu terselenggaranya banyak kegiatan dengan lebih mudah.

INFRASTRUKTUR ITU HARUSNYA GRATIS

Ini saya baru dengar. Saya setuju kalau jalan raya adalah salah satu infrastruktur, tapi saya tidak setuju ketika mengatakan jalan raya itu gratis.

Sejatinya pengguna jalan raya itu pun bayar melalui pajak yang dibayarkan setiap tahunnya. Buat kita-kita sobat missqueen mungkin tidak pernah merasakannya karena para perusahaan, bos besar, dan orang-orang hedon yang uangnya dimasukkin ke money launcher motif Supreme di video YouTubenya-lah yang membiayai jalan raya yang kita nikmati secara cuma-cuma tersebut.

Lalu, saya sangat setuju jika infrastruktur itu HARUSNYA gratis. Sekolah gratis, pelayanan rumah sakit gratis, sutet telekomunikasi dan jaringan gratis, listrik gratis, air bersih gratis, transportasi umum gratis, dan sumber-sumber energi lainnya pun seharusnya gratis biar kita bisa hidup enak.

Tapi nyatanya, tidak ada infrastruktur yang gratis kecuali kita mau 'keras kepala' mengatakan bahwa infrastruktur HARUSNYA GRATIS. Dengan definisi tersebut maka argumen saya sebelumnya otomatis terbantahkan. Sekolah, rumah sakit, menara telekomunikasi, listrik, kereta (transportasi umum), dan yang lainnya bukanlah infrastruktur dan mungkin hanya 'hal' atau 'benda' atau 'sesuatu' yang berbayar.

Saya tegaskan lagi pendapat saya. Menurut saya, TIDAK ADA INFRASTRUKTUR YANG GRATIS, khususnya di Indonesia.

JALAN TOL CUMA INVESTASI ASENG MODAL HUTANG

Untuk masalah yang satu ini saya suka. Ya, satu kesalahan fatal rezim Jokowi adalah membangun banyak hal dengan modal hutang berbunga. Ini sebenarnya saya juga kurang setuju, sih. Tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur.

Masalahnya sekarang adalah apa yang bakal kita lakukan sekarang dengan bubur ini? Membuangnya saat masih hangat dan masih satu mangkok penuh ini? Atau kita taburi kacang, daun bawang, bawang goreng, kerupuk dan ati ampela lalu lumuri dengan kecap, sambal, dan sedikit kaldu supaya layak santap?

Saya jadi ingat kisah salah seorang sahabat, Abdurahman bin Auf, yang katanya sahabat paling kaya dan pandai berniaga di masanya. Ketika hijrah ke Madinah bersama Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, beliau merelakan seluruh hartanya dan datang ke Madinah dalam keadaan miskin. Lalu, seorang pengusaha Anshor menawarkan sebagian hartanya sebagai modal usaha. Yang diminta oleh sahabat Abdurahman bi Auf malah informasi tentang perdagangan dan tempat berniaga di Madinah.

Intinya, Abdurahman ingin tahu bagaimana cara berbisnis dan memulai bisnis dengan apa yang ada dan dia bisa. Ini kuncinya.

Maaf agak keluar jalur, yuk kita kembali ke track yang seharusnya.

Saya satu suara dengan para kampret (kalau mau main kubu-kubuan) bahwa dasar/ modal pembangunan rezim Jokowi kurang bagus dan cenderung memberatkan rakyat. Tapi, ya sudahlah, toh sudah jadi. Sekarang tinggal pikirkan solusi terbaiknya supaya infrastruktur ini nggak sia-sia. Iya, kan?


Penutup

Mengkritik boleh, kritis boleh, tidak suka boleh, BODOH JANGAN. Saya senang dengan nyinyiran netijen yang disampaikan dengan cara yang santun dan elegan seperti membuat video opini, kek atau tulisan, kek. Itu lebih saya apresiasi dan saya anggap bermutu ketimbang komentar di sosmed yang entah orisinil atau copas draft forward message di Group WhatsApp aja.

Sebagai generasi milenial, silahkan suarakan pendapat teman-teman di jagat internet. Buktikan kalau generasi muda juga melek hukum dan politik. Berikan solusi tanpa mencaci. Jadikan tagar #2019GantiPresiden dan #2019TetapJokowi sebagai ruang diskusi, bukan tempat wadah saling hujat tanpa bukti kongkrit yang tak pasti.

Tapi, karena saya nggak yakin netijen bisa berdamai, yok sekalian aja baku hantam dan viralkan. Saya suka kebodohan yang mengakar dan tak bisa disembuhkan. Indonesia nggak usah dibawa maju, segini aja udah bagus kok, rakyatnya lucu.

Itulah sedikit opini saya sebagai bentuk kontribusi saya dengan tema pilpres ini. Kurangnya adalah untuk para kampret dan cebong yang tersinggung, lebihnya adalah dari dukungan kampret dan cebong yang sekufu' dengan pendapat saya. Yuk, kita diskusi lewat kolom komentar dibawah.

Beberapa waktu ke belakang (Januari 2019), media sosial, khususnya Instagram, dibuat seru dengan lahirnya fenomena baru yang cukup viral. Ya, saya sendiri familiar mengenal fenomena ini dengan sebutan tagar #10YearChallenge.
#10YearChallenge, Faedah or Unfaedah?
Singkatnya, #10YearChallenge ini adalah sebuah tantangan untuk pengguna Instagram untuk mengunggah sebuah konten yang berisi gambar dirinya di tahun 2009 dan dirinya di tahun 2019.

Jujur, saya nggak ada masalah dengan viralnya konten ini. Tapi, semua berubah saat saya menemukan beberapa konten yang menurut saya 'cerdas' untuk memanfaatkan momentum viralnya challenge ini.

Saya akan jelaskan alasan saya mengatakan cerdas ini di akhir tulisan ini.

Sekarang, mari kita coba bahas dan jawab pertanyaan ini, "Apakah ada manfaat atau pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari fenomena ini?"

Dari kacamata saya, orang yang mengetahui tapi tidak mengikuti, fenomena ini seperti menaruh pesan untuk muhasabah atau mawas diri. Setelah sepuluh tahun menjalani hidup, seberapa besar perubahan yang terjadi pada diri kita?

Mungkin ada yang awalnya kurus kering tak terurus tiba-tiba jadi gemuk subur padat berisi setelah 10 tahun.

Mungkin ada yang di tahun 2009 menjadi korban bullying di sekolah dan ternyata di tahun 2019 menjadi seorang motivator yang inspiratif. *atau mengalami bullying yang lebih parah

Jelas 10 tahun bukan waktu yang sebentar dan dalam rentang waktu sepanjang itu, banyak yang telah terjadi dan mempengaruhi diri kita. Umat muslim selalu diajak untuk bermuhasabah minimal 5 kali setiap harinya. Umat beragama lainnya minimal satu kali seminggu melakukan mawas diri di tempat ibadahnya masing-masing.

Nah, fenomena #10YearChallenge ini seakan mengajak orang-orang untuk mengingat lagi siapa kita 10 tahun lalu.

Untuk beberapa orang, ini adalah momen untuk bernostalgia dengan foto-foto lama. Tertawa sendiri saat melihat foto-foto lawas yang mungkin masih kucel dan dekil. *Kalau saya mungkin sampai sekarang masih seperti itu.

Saat fenomena ini muncul ke permukaan, orang-orang pun mencoba turut serta dengan ide dan kreativitasnya masing-masing. Ada yang ikut serta secara normal (yang cuma masang foto lawas dan masa kini), ada yang mencoba melucu, ada juga yang berpesan (kalau bahasa islaminya berdakwah). *Dan ada juga yang membawanya ke ranah politik, membandingkan Indonesia di tahun 2009 dan di tahun 2019 dilihat dari segi pemerintahannya. Haha

Saya sangat mengacungi jempol bagi mereka-mereka yang reaktif terhadap isu ini dan memanfaatkannya untuk menebar manfaat. Salah satu konten #10YearChallenge yang menurut saya patut dicontoh adalah postingan yang satu ini:

Konten seperti ini seharusnya share-able dan patut diviralkan karena informatif dan berdampak positif pada emosional dan rasionalitas pembaca.

Saya tidak bilang kalau selain dari konten yang setipe dengan konten diatas itu jelek, tapi saya harap konten-konten seperti ini bisa selalu hadir dalam setiap perkembangan waktu. Karena momen viralnya fenomena ini paling banyak diikuti oleh muda-mudi yang notabene kurang perhatian terhadap isu-isu seperti Syria, Palestina, Rohingya, ataupun Uyghur.

Jadi momen-momen viral sangat cocok untuk dijadikan alat edukasi masyarakat (khususnya pemuda pemudi) agar bisa lebih peduli terhadap sekitar.

Saya nggak tahu konteks besar dari tulisan ini kemana, tapi kesimpulannya adalah fenomena viralnya #10YearChallenge menurut saya cukup faedah bagi kita semua. Entahlah, mau diskusi? Tulis pendapat kalian di kolom komentar di bawah. Semoga tulisan ini ada manfaatnya dan sampai jumpa di tulisan saya lainnya.

Akhmad Syahroni

{facebook#https://www.facebook.com/akhmadsyahroni101} {twitter#https://www.twitter.com/mazdesu} {google-plus#https://plus.google.com} {youtube#https://www.youtube.com} {instagram#https://www.instagram.com/mazdesu}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget